Senin, 23 Februari 2026

26 Tahun Istriku: Mari Kita Rayakan Hidup Tanpa Budaya Patriarki dan Feodal

 

Istriku ulang tahun

Tanggal 23 Februari 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup istriku. Di usia yang Ke-26, aku tidak hanya melihat angka yang bertambah, tetapi juga lapisan demi lapisan kedewasaan yang telah terbentuk dari pengalaman, tantangan, dan pilihan-pilihan hidup yang kamu ambil dengan penuh kesadaran. Kamu telah tumbuh menjadi sosok perempuan tangguh—ketangguhan yang tidak lahir dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keberanian untuk tetap berjalan meski rasa itu hadir.


Ketangguhanmu selalu mengingatkanku pada sosok ibuku. Bukan dalam arti membandingkan, melainkan melihat benang merah nilai yang sama: keteguhan hati, keikhlasan dalam menjalani peran, dan kekuatan untuk tetap berdiri di tengah badai kehidupan. Seperti beliau, kamu memiliki cara sendiri dalam menghadapi kerasnya realitas, tanpa kehilangan kelembutan sebagai manusia. Ada keseimbangan yang jarang dimiliki banyak orang—antara kuat dan hangat, antara tegas dan penuh empati.


Di usia ini, aku melihat perubahan yang semakin jelas dalam caramu memandang dunia. Kamu tidak lagi terburu-buru dalam merespons masalah. Kamu memilih untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu mencari solusi dengan akal sehat. Kedewasaan itu bukan sekadar tentang usia, melainkan tentang kemampuan untuk memilah mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang harus dilepaskan. Kamu telah sampai pada titik di mana emosi tidak lagi menjadi penguasa, melainkan mitra yang kamu kendalikan dengan bijaksana.


Hal yang paling aku kagumi adalah keberanianmu dalam menghadapi masa depan. Kamu tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan datang, seperti kita semua. Namun, kamu tidak membiarkan ketidakpastian itu menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Kamu memilih untuk tetap berjalan, tetap berusaha, dan tetap percaya bahwa apa pun yang datang, kita bisa menghadapinya bersama. Sikap ini bukan sesuatu yang sederhana; ini adalah hasil dari keberanian yang ditempa oleh pengalaman.


Kita berdua tahu bahwa perjalanan hidup, terutama dalam rumah tangga, tidak selalu mulus. Akan ada batu karang yang menghadang, ombak yang datang tanpa peringatan, dan arah yang kadang terasa membingungkan. Namun, dalam semua itu, aku percaya bahwa kita tidak sedang berlayar sendirian. Kita berada dalam bahtera yang sama, dengan tujuan yang sama. Kita harus siap melangkah bersama, bukan saling meninggalkan ketika keadaan menjadi sulit.


Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang selalu ingin aku jaga bersama kamu: semangat untuk tidak pernah lelah. Bukan berarti kita harus selalu kuat tanpa jeda, melainkan kita harus tahu kapan beristirahat tanpa kehilangan arah. Lelah adalah manusiawi, tetapi menyerah bukanlah pilihan yang ingin kita ambil. Kita boleh berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan energi yang baru.


Aku juga ingin kita terus mengingat pentingnya menjaga kedaulatan diri. Dalam hubungan apa pun, termasuk pernikahan, identitas pribadi tidak boleh hilang. Kamu tetaplah dirimu—perempuan dengan pikiran, keinginan, dan prinsip hidup yang kamu pegang. Aku tidak ingin kita saling menguasai, melainkan saling menghormati ruang dan kebebasan satu sama lain. Kedaulatan diri adalah fondasi dari hubungan yang sehat, karena dari situlah lahir rasa saling percaya yang sejati.


Ketika kita berbicara tentang keluarga, aku percaya kita memiliki visi yang sama: membangun ruang yang adil, hangat, dan manusiawi. Kita ingin merawat keluarga tanpa terjebak dalam budaya patriarki dan feodal yang membatasi peran dan potensi seseorang. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; yang ada hanyalah perbedaan peran yang dijalankan dengan kesadaran dan kesepakatan bersama. Kita belajar untuk tidak mengulang pola lama yang mungkin tidak lagi relevan dengan nilai yang kita yakini.


Dalam bahtera rumah tangga ini, kita bukan kapten dan penumpang. Kita adalah rekan kerja, mitra yang saling mendukung dan melengkapi. Ada kalanya kamu yang memegang kendali, ada kalanya aku. Tidak ada kompetisi di antara kita, yang ada hanyalah kolaborasi. Kita bekerja sama untuk menjaga arah, memperbaiki layar ketika robek, dan memastikan bahwa kita tetap bergerak maju meski perlahan.


Aku juga percaya bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun atas tuntutan sepihak. Kita tidak hanya menuntut untuk diistimewakan, tetapi juga berusaha untuk mengistimewakan satu sama lain. Ada keindahan dalam memberi tanpa selalu menghitung, dalam memahami tanpa selalu meminta dipahami terlebih dahulu. Ketika kita sama-sama berusaha untuk memberi yang terbaik, keseimbangan itu akan tercipta dengan sendirinya.


Di usia 26 ini, kamu berada di fase kehidupan yang penuh potensi. Banyak hal yang telah kamu capai, dan lebih banyak lagi yang masih menunggu untuk diwujudkan. Aku tidak meragukan kemampuanmu untuk terus berkembang, karena aku telah melihat bagaimana kamu belajar dari setiap pengalaman—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Kamu tidak pernah benar-benar berhenti bertumbuh.


Perjalanan ke depan mungkin tidak akan lebih mudah, tetapi aku yakin kamu akan menjadi lebih kuat. Bukan karena dunia menjadi lebih ramah, melainkan karena kamu semakin siap untuk menghadapinya. Dan dalam semua itu, aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Aku ada di sampingmu, bukan sebagai penentu arah hidupmu, tetapi sebagai teman berjalan yang siap mendukungmu dalam setiap langkah.



Selamat ulang tahun yang ke-26, istriku. Terima kasih telah menjadi dirimu yang sekarang—perempuan tangguh, dewasa, dan penuh keberanian. Semoga kita terus belajar, terus bertumbuh, dan terus melangkah bersama, apa pun yang menghadang di depan.



Bekasi, 23 Februari 2026

Minggu, 11 Januari 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (4): Istirahatlah, Biar Allah yang Mengurus

 

Foto bersama santri laki-laki usai Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan ke-4 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 11 Januari 2026. 


*****


أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِه لِنَفْسِك

Istirahatkan dirimu dari mengatur (segala urusan), karena apa yang sudah diurus oleh selainmu (Allah) untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusnya sendiri.


Makna kata “Ariḥ


Kata أرِحْ (ariḥ) berarti istirahat, tenang, rileks. Dalam bahasa kita bisa diterjemahkan sebagai rehat atau santai. Dalam istilah hari ini, bisa disebut sebagai slow living, hidup dengan ketenangan dan tidak penuh kegelisahan.


Maka أرِحْ نَفْسَكَ berarti “tenangkanlah dirimu”.


Hikmah ini berbunyi:


أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu dari mengatur-ngatur (tadbîr)


فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْك

karena apa yang sudah dijalankan oleh selainmu (yakni Allah) untukmu


لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

jangan engkau sibuk menjalankannya sendiri


Ini adalah bagian dari pembahasan besar dalam Al-Hikam tentang tindakan manusia (al-af‘āl). 


Manusia itu hakikatnya adalah makhluk yang bergerak. Selama masih bergerak, ia masih hidup. Kalau berhenti bergerak, barulah ia menjadi jenazah. Maka seluruh Kitab Al-Hikam di bagian awal membahas hukum-hukum tentang tindakan manusia.


Dalam hikmah-hikmah sebelumnya kita sudah belajar bahwa manusia wajib beramal dan berusaha tetapi amal dan usaha tidak boleh dijadikan sandaran mutlak.


Artinya: kita harus bekerja, tapi hasilnya jangan kita anggap sepenuhnya dari usaha kita. Yang menentukan hasil adalah Allah.


Sekarang kita naik ke tingkat keempat: “Istirahatkan dirimu dari mengatur dan mengusahakan segalanya.”


Ini tampak seperti bertentangan dengan perintah bekerja. Tapi di sinilah rahasia tasawuf.


Dalam tasawuf, semua ajaran selalu memiliki dua sisi: Syariat (zāhir) dan Hakikat (bāṭin)


Ibn ‘Ajîbah, salah satu pensyarah Al-Hikam, menjelaskan bahwa banyak ayat dan hadits tampak bertentangan jika dibaca dengan satu dimensi saja.


Contohnya, Al-Qur’an mengatakan: “Masuklah kalian ke surga karena amal kalian.”


Tetapi ada hadits Nabi mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya, termasuk aku.”


Kalau dibaca secara literal, ini tampak kontradiktif. Tapi menurut Ibn ‘Ajîbah: Ayat itu berbicara pada level syariat dan Hadits itu berbicara pada level hakikat. Keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.


Maka “jangan mengatur” dalam hikmah ini tidak berarti kita berhenti bekerja, melainkan “jangan menjadikan diri kita seolah-olah sebagai satu-satunya pengatur kehidupan.” Ada “Pengurus Besar” di atas semua pengurus, yaitu Allah.


Seperti kisah cicak yang ditanyakan kepada Kiai Ma‘ruf Irsyad Kudus: “Cicak itu siapa yang memberi makan?”


Jawab beliau: “Kamu tidak usah mengurusi cicak. Sudah ada yang mengurus.”


Atau seperti kisah Abdul Muthalib saat Kakbah hendak diserang Abrahah. Ia tidak panik: “Ini rumah-Mu ya Allah. Kalau Engkau mau menjaganya, Engkau jaga sendiri. Dan benar, Allah mengirim burung Ababil.


Dalam setiap urusan, selalu ada “Ababil” yang dikirim Allah. Kita sering tidak tahu dari mana, kapan, dan bagaimana datangnya, tapi ia selalu datang.


Jadi, usaha itu penting tetapi usaha bukan sandaran. Dan pada level yang lebih tinggi: “kalau sudah ada yang mengurus, jangan gelisah ingin mengurus segalanya sendiri.”


Inilah makna:

أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Istirahatkan dirimu, karena ada “Pengurus Agung” yang sedang bekerja.


Kalimat “sudah ada yang mengurus” jangan disalahpahami menjadi “kalau begitu kita tidak perlu berusaha.” Tidak begitu. Hikmah ini hanya berlaku bagi orang yang sudah berusaha.


Orang yang belum berusaha, lalu langsung berkata “sudah ada yang mengurus”, itu keliru.


Ini seperti kaidah dalam makan: “Berhentilah sebelum kenyang.” Kalimat itu hanya berlaku bagi orang yang sudah makan. Kalau belum punya nasi sama sekali, kaidah itu tidak relevan. 


Begitu juga dengan hikmah keempat ini. Ia berlaku bagi orang yang sudah bekerja, sudah berikhtiar, lalu setelah itu punya kesadaran: “Sekarang ini sudah ada yang mengurus.”


Ababil selalu datang artinya bahwa dalam setiap urusan selalu ada pengurus. Dan ketika kita sudah berusaha lalu terjepit, buntu, tidak melihat jalan keluar, Allah akan mengirim Ababil.


Ababil itu selalu ada. Ia datang bukan ketika hidup santai, tetapi ketika kita sudah berusaha, situasi sudah mepet, kita tidak punya jalan keluar, maka di situlah pertolongan Allah datang. Inilah yang membuat hidup menjadi ringan dan bahagia. Inilah makna أَرِحْ نَفْسَكَ — menenangkan diri.


Foto bersama santri perempuan usai Ngaji Al-Hikam


Dalam syarah Ibn ‘Ajîbah dikutip perkataan wali besar Sahl at-Tustarî: “Tinggalkanlah pengaturan-pengaturanmu sendiri, karena itulah yang membuat hidup menjadi ribet.”


Manusia menjadi gelisah karena terus membuat skenario: “Kalau gagal begini, kalau berhasil begitu. Malau A tidak jalan, pakai B. Kalau B gagal, pakai C. Itulah cara berpikir modern yang satu dimensi.


Burung yang hanya punya satu sayap akan berputar-putar, tidak bisa terbang lurus. Orang tasawuf juga berusaha, tapi tidak menjadikan usaha sebagai sandaran mutlak. Karena ketika usaha dijadikan penentu hasil, hidup menjadi berat.


Imam Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

لا تختَرْ من أمرك شيئًا

“Jangan merasa punya hak memilih.”


Ini bukan berarti tidak boleh memilih secara lahir. Kita tetap memilih, melamar pekerjaan, membuat keputusan. Tapi jangan merasa bahwa pilihan kita itulah penentu segalanya. 


Di sinilah muncul kaidah tasawuf yang dalam: Pilihlah untuk tidak memilih. Artinya: secara lahir kita memilih tapi secara batin kita sadar bahwa yang menentukan adalah Allah. 


Contohnya, melamar kerja. Tingkat syariat: Saya memilih melamar kerja di NU Online. Tingkat kedua: Saya diterima, tapi saya sadar bahwa ini bukan semata pilihan saya, ini pilihan Allah. Tingkat ketiga: Jangan sampai saya terpenjara oleh pilihan itu. Saya tidak boleh diperbudak oleh karier dan status. Tingkat keempat: Bahkan usaha untuk “lari” dari keterikatan pun dilepaskan. Inilah yang disebut: lari dari lari.


Semua ini berpuncak pada firman Allah:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Larilah kalian kepada Allah.” 

Dari dunia, menuju Allah. Menjauh dari sesuatu, untuk mendekat kepada-Nya.


Allah adalah Pengurus dari segala pengurus. Syekh Abu’l-Hasan asy-Syâdzilî berkata:

إن كان ولا بد من التدبير، فدبّر أن لا تدبّر

“Jika kamu memang harus berusaha, maka usahakanlah untuk tidak mengandalkan usahamu.”


Artinya: Kalau kamu terpaksa harus mengatur dan berusaha, maka iringi itu dengan kesadaran bahwa yang menggerakkan usahamu adalah Allah. Karena di balik usaha kita, ada yang sedang “mengusahakan” kita.


Ada dua orang sama-sama bekerja. Yang satu berkata: “Saya berhasil karena kerja keras saya.” Yang lain berkata: “Saya memang bekerja, tapi kemampuan bekerja ini dari Allah.” Secara lahir sama, tapi secara batin berbeda.


Inilah makna terdalam:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ

Tenangkan dirimu, karena ada Pengurus di balik semua usaha kita.



Bekasi, 11 Januari 2026

Minggu, 07 Desember 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (3): Cara Menembus Tembok Kokoh Takdir Tuhan

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam ke-3 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Desember 2025.


*****


Sawābiqul himami lā takhriqu aswāral aqdar

Ini hikmah yang sederhana. Tapi iman atau kualitas iman yang sampai pada hikmah seperti ini membutuhkan perjuangan hidup yang sangat panjang. Ini adalah kesimpulan dari pengalaman batin, pengalaman rohani yang luar biasa, sampai kemudian Ibn ‘Aṭhā’illāh mendapatkan ilham untuk menulis hikmah ketiga ini.

Sawābiqul himam: cita-cita yang berlari dengan sangat kencang.

Ini menggunakan ṣifat ‘ilal mausūl, jadi asalnya adalah al-himam as-sawābiq: cita-cita yang begitu kuat, saking kuatnya seperti seorang pelari sprint, bukan pelari maraton. Kencang sekali.

Himam atau cita-cita, tujuan, tekad yang begitu kuat—saking kuatnya sampai mirip seorang pelari kencang—lā takhriqu aswāral aqdar: tidak bisa menembus tembok takdir Allah yang begitu kokoh. Tembok itu begitu kuat sampai mustahil ditembus oleh tekad manusia.

Secara redaksi, maknanya sederhana: takdir Tuhan itu seperti tembok kokoh, tidak mungkin ditembus. Tetapi kalau kita baca syarah-nya Ibn ‘Ajībah, ini menjadi menarik sekali.

Menurut Ibn ‘Ajībah, memang takdir Allah itu seperti tembok yang tidak mungkin ditembus. Kalau Allah sudah mentakdirkan A, kehendak manusia tidak bisa mengubahnya. Tetapi orang-orang yang ‘ārif billāh, orang-orang yang mengenal Allah, orang-orang yang memiliki ma‘rifat—ketika mereka menghendaki sesuatu, kehendak itu beriringan atau selaras dengan kehendak Allah.

Maka orang yang sudah mencapai ma‘rifat, ketika dia menghendaki A, ya A itu terjadi. Tetapi terjadinya bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Analogi sederhananya begini: kita sudah sangat mengenal gerak-gerik, perangai, dan kebiasaan seorang sahabat. Kalau kita diajak ke warung oleh orang itu, kita sudah tahu pasti dia akan pesan rawon. Bahkan kalau ke restoran Jepang pun, ya tetap saja rawon. Karena kebiasaannya begitu. Jadi saya bisa “menerka” apa yang akan terjadi, bukan karena saya menentukan, tetapi karena saya tahu kebiasaannya.

Orang ‘ārif billāh itu seperti itu: mengenal kebiasaan Allah, mengenal gerak-geriknya, mengenal kehendaknya. Bukan berarti dia mengetahui rahasia takdir Allah, tetapi kualitas ma‘rifat membuat kehendaknya selaras dengan kehendak Allah. Maka ketika dia berkehendak, kehendaknya itu sejalan dengan apa yang Allah kehendaki.

Maka para wali itu ketika mengatakan sesuatu seperti “kun”, seolah-olah terjadi. Ini bukan berarti mereka menentukan takdir. Tapi karena pada momen itu, kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Ada sebuah hadits qudsi yang dikutip Ibn ‘Ajībah: "Wahai hamba-Ku, Aku adalah Allah yang jika berkata kepada sesuatu “kun”, maka terjadilah. Taatlah kepada-Ku, maka Aku jadikan engkau—ketika engkau mengatakan “kun”—maka terjadi pula."

Namun ini hanya terjadi pada orang-orang tertentu, dan terjadinya itu bukan karena kekuatan dirinya mengubah takdir, tetapi karena pada momen itu Allah memang menghendaki hal tersebut terjadi.

Kadang-kadang juga seorang mukmin biasa, meskipun bukan wali, pada momen tertentu—misalnya ketika ia dizalimi—doanya diijabah. “Du‘ā’ul maẓlūm mustajāb.” Artinya Allah menjadikan kehendaknya selaras dengan kehendak orang yang teraniaya. Maka sesuatu terjadi.

Jadi memang takdir Allah tidak bisa ditembus. Tetapi ada momen ketika kehendak Allah itu selaras dengan kehendak manusia tertentu.

Para ahli ilmu kalam membagi takdir: ada qaḍāmu‘allaq yang masih bisa berubah dengan sedekah, doa, dan amal baik; dan qaḍā’ mubram yang tidak mungkin berubah. Tapi pembagian seperti itu hanyalah pendekatan rasional, tidak selalu memuaskan dalam ilmu tasawuf.

Para sufi mengatakan: pokoknya takdir Allah itu pada akhirnya tidak bisa diubah. Kalau tampak seperti berubah, itu karena Allah menghendaki perubahan itu.

Qada pada akhirnya tidak bisa diubah. Ini semua sesuatu yang hanya bisa dipahami melalui pengalaman hidup. Ilmu tasawuf itu ilmu kehidupan.

Kalau seseorang sudah punya pengalaman hidup yang cukup panjang, belajar tasawuf menjadi enak, karena dia punya referensi batin. Kalau terlalu muda, membaca tasawuf bisa membingungkan, karena tasawuf itu banyak bertumpu pada intuisi batin.

Takdir itu bisa dikenali, bukan oleh teori, tetapi oleh pengalaman hidup. Orang itu intuisi. Tapi ini intuisi yang jujur dari batin, bukan intuisi karena nafsu.

Ini semua masih bagian dari pembahasan amal (dalam Kitab Al-Hikam). Hikmah pertama membahas bahwa amal tidak boleh dijadikan sandaran. Hikmah kedua tentang bertindak sesuai maqam. Hikmah ketiga tentang tindakan manusia tidak bisa serta merta menghasilkan sesuatu, karena tetap ada gramatika amal.

Kalau seseorang memahami tiga kaidah amal ini, hidupnya menjadi “well”—enak, marem, hasanah. Bukan berarti tidak ada masalah, tetapi batinnya tenang.

Sekarang di (dunia) Barat, banyak orang berpikir hidup itu hanya tentang mengubah segala hal menjadi sesuatu yang menguntungkan—profit, value added. Ini benar, tetapi kalau diekstremkan, menjadi cara pandang yang timpang. Mereka melihat hidup dengan “mata satu”. Tidak seimbang. Maka hidup jadi tidak enak.

Kita harus melihat hidup dengan dua mata: seimbang. Di situlah wellness.

Kita tidak mungkin menembus tembok takdir. Tapi bukan berarti manusia tidak menentukan nasib. Kata Karl Marx: “Manusia pencipta nasibnya sendiri.” Ini benar, tapi hanya separuh: benar dalam kerangka ikhtiar. Tetapi apakah ikhtiar menghasilkan? Tidak selalu, karena ada batas-batas takdir.

Tasawuf itu keseimbangan dua daun pintu. Kalau satu daun saja ditutup, tidak sempurna.

Ibn ‘Ajībah dalam pendahuluan Kitab Syarah Al-Hikam ini mengatakan, Qur’an itu punya ayat-ayat syariat dan ayat-ayat hakikat. Yang tampak bertentangan sebenarnya bukan bertentangan. Yang satu bicara syariat, yang satu bicara hakikat.

Contoh: "Udkhulul-jannata bimā kuntum ta‘malūn.” Artinya: Masuklah surga karena amal kalian.

Tapi ada hadits: "Lā yadkhulul-jannata aḥadun bi ‘amalih.” Artinya: Tidak ada yang masuk surga karena amalnya.

Secara rasional, ini bertentangan. Tapi dalam ilmu hakikat tidak. Ayat pertama adalah syariat: kamu harus beramal. Hadits kedua adalah hakikat: yang memasukkanmu ke surga adalah rahmat Allah.

Demikian juga ayat: "Lâ tudrikuhul-abshâru wa huwa yudrikul-abshâr, wa huwal-lathîful-khabîr." Artinya: Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Tetapi ayat lain: "Wujūhun yauma idhin nāḍirah ilā rabbihā nāẓirah." Artinya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri karena memandang Tuhannya.

Secara rasional tampak bertentangan. Tetapi pendekatannya berbeda: yang satu syariat, yang satu hakikat. Dua kamar, tidak kontradiksi.

Inilah gramatika kehidupan yang diajarkan dalam hikmah ketiga.


Minggu, 02 November 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (2): Memahami Maqam Diri, Tajrid atau Asbab?

 

Gus Ulil saat mengampu Kitab Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman Ngaji Kitab Al-Hikam bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 2 November 2025.

***

Wa iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbabi minas syahwatil khafiyyah. Wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah.

Salah satu ajaran penting di dalam tasawuf adalah bahwa Allah itu memiliki dua dimensi. Allah itu sendiri tunggal, tetapi dalam keterlihatan-Nya ada dua sisi: al-awwal wal-akhir, az-zahir wal-bathin— yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tidak tampak. Jadi selalu ada pasangan, dua.

Gambarannya seperti pintu yang terdiri dari dua daun. Ada daun pintu yang saling melengkapi. Itu adalah salah satu ajaran penting tasawuf. Karena itu, kalau kita membaca Al-Hikam, kita akan menemukan bahwa hikmahnya itu seperti dua daun pintu: ada satu sisi dan sisi pasangannya.

Bagian pertama: iradatuka at-tajrid ma‘a iqamati Allahi iyyaka fil-asbab minas syahwatil khafiyyah—ini satu daun pintu.

Bagian kedua: wa iradatuka al-asbab ma‘a iqamati Allahi iyyaka fit-tajrid infitâtun ‘anil himmatil ‘aliyyah—ini daun pintu yang kedua.

Ajaran tasawuf selalu begitu: ada khauf dan ada raja', ada keseimbangan. Dalam hidup pun demikian: kalau satu pasangan hilang, hidup menjadi tidak seimbang.

Sekarang maknanya: iradatuka at-tajrid—keinginanmu untuk menyendiri, ‘uzlah, tidak melakukan apa-apa, padahal Allah menempatkan dirimu pada maqam asbab, yaitu maqam bahwa kamu harus bergaul dengan masyarakat, bekerja, membangun dunia, menjadi dosen, pedagang, petani, atau apa pun. Kamu harus terlibat dalam kehidupan sosial. Itu namanya asbab.

Tiba-tiba kamu ingin menyendiri dan tidak berinteraksi, itu termasuk minas syahwatil khafiyyah atau syahwat yang tersembunyi. Pada dasarnya itu adalah kemalasan, tetapi dibungkus dengan bahasa sufi. Seolah-olah sedang beribadah, padahal lari dari tanggung jawab.

Misalnya orang yang seharusnya bekerja masuk kantor, tapi setiap hari i‘tikaf di masjid. I‘tikaf itu baik, tetapi kalau bukan maqam-nya, itu malah menjadi cara untuk lari dari tanggung jawab. Itu syahwat yang halus. Kadang alasan "ibadah" itu hanya pembungkus. Padahal intinya menghindar dari tanggung jawab.

Sesuatu yang bentuknya baik sekalipun, kalau dasarnya syahwat, tetap tidak baik. Ini ilmu batin. Bentuk boleh religius, tetapi jika motivasinya syahwat, tetap buruk.

Ini teori maqam. Mayoritas manusia berada pada maqam asbab, yaitu harus bekerja, membangun bumi (‘imaratul ardh). Jika orang pada maqam asbab memaksa diri masuk maqam tajrid, maka ia sedang lari dari tanggung jawab.

Sebaliknya, ada orang tertentu yang memang Allah tempatkan dalam maqam tajrid, yaitu menyendiri dan fokus pada ibadah batin. Itu maqam tinggi dan hanya sedikit orang yang mendapatkannya. Kalau orang maqam tajrid justru ingin turun ke maqam asbab, itu berarti turun derajat.

Pertanyaanya: bagaimana kita tahu ukuran (size) maqam kita?

Dalam akidah, kita diajarkan iman kepada takdir. Allah sudah menetapkan ukuran (size) bagi setiap orang. Seperti pakaian: ada S, M, L, XL. Tubuh kita punya ukuran. Begitu pula batin kita punya ukuran. Kalau orang ukuran tubuhnya L tapi memaksakan memakai baju S supaya terlihat langsing, maka yang terjadi hanya kesempitan dan tidak nyaman. Begitu pula di batin: hidup tidak sesuai maqam itu seperti memakai ukuran yang bukan ukuran kita — tidak nyaman, tidak enak dilihat, dan menyiksa diri.

Ada orang yang sejak awal diberi anugerah untuk mengetahui ukuran dirinya. Tetapi ada juga yang perlu perjalanan panjang untuk mengenal maqamnya sendiri.

Ciri orang yang sudah mengenal ukuran dirinya: ia hidup dengan tenang, bahagia, dan tidak iri pada orang lain. Dia menjalani maqamnya dengan enak.

Karena itu doa kita:
"Ya Allah, tunjukkan kepadaku ukuran diriku, maqamku. Dan berikan kekuatan kepadaku untuk istiqamah menjalani maqam itu, tanpa iri kepada orang lain."

Kalau kita hidup sesuai dengan maqam kita, kita enak. Dan orang lain pun enak melihat kita.

Di sini kita sebetulnya temanya tentang tajrid. Tajrid itu artinya hidup yang murni hanya untuk Allah saja. Kita tidak menjalankan asbāb, tidak menjalankan sarana-sarana untuk mencapai sesuatu yang bersifat keduniaan.

Itu tajrid. Memang tajrid ini adalah maqām yang tinggi. Manusia yang beriman itu sebetulnya arah atau tujuan orientasi hidupnya itu harus tajrid.

Asbāb itu hanya wasīlah saja sebetulnya. Tapi intinya tajrid. Nah, tajrid itu ada tiga, kalau kita baca syarahnya:

Wa ammā ‘inda aṣ-ṣūfiyyati, tajrid itu fahuwa ‘alā fanā’ faḍl al-Islām.

Tajrīd az-ẓāhir faqaṭ. Tajrīd dalam tingkat zahir.
Aw al-bāṭin faqaṭ. Tajrīd
batin.
Aw humā ma‘an
, atau dua-duanya.

Tajrīd az-ẓāhir adalah tarkul asbāb ad-dunyāwiyyah wa kharḍul ‘awā’id al-jismāniyyah ‘alā al-jism.

Tajrid az-ẓāhir itu adalah meninggalkan sebab-sebab keduniaan. Kita tidak melakukan ikhtiar duniawi dan melawan kebiasaan-kebiasaan jasmani. Misalnya, mestinya kalau pagi sarapan, kita tidak sarapan. Itu namanya melawan hukum jasmani.

Kalau siang biasanya makan siang, kita tidak makan siang. Sore biasanya ada camilan, kita tidak makan camilan. Itu namanya melawan hukum badan atau hukum jasmani. Kalau malam jam sembilan harusnya sudah tidur, ini tidak tidur. Itu melawan hukum jasmani.

Kalau sampai melawan hukum jasmani itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Latihan rohani itu kadang memang mengharuskan adanya tajrīd az-ẓāhir.

Makanya tradisi orang Jawa, kalau mau punya gawe besar: mau mantu, mau nyunat anak, mau punya perhelatan apa saja, mau mengadakan haul, mau mengadakan pengajian besar, mau mengadakan reuni besar, mengadakan event besar—bahkan event biasa saja—itu sebelum acara biasanya puasa dulu. Itu namanya tajrīd az-ẓāhir. Tajrīd az-ẓāhir ini diperlukan.

Kadang kalau kita menghadapi perhelatan atau tugas besar, kita harus puasa dulu. Tujuannya supaya hati kita terfokus, terkonsentrasi. Karena biasanya kalau badan kita di tajrid: dia ingin makan, kita tahan tidak makan. Ingin tidur, tidak tidur. Maka hati kita mengalami peningkatan kualitas. Orang kalau puasa itu rohaninya meningkat. Sinyal rohaninya tajam.

Pokoknya kalau menghadapi perkara besar, dianjurkan tajrīd az-ẓāhir.

Puasa, atau begadang malam (tirakat), itu ritual orang Jawa. Tapi tentu ini kalau tidak berlebihan, ada ukuran, ada manfaat rohaninya, bukan ekstrem.

Jadi itu tajrīd az-ẓāhir. Kebutuhan jasmani dikurangi.

Kemudian yang kedua tajrīd al-bāṭin. Tajrīd al-bāṭin yaitu meninggalkan keterikatan batin. Misalnya, kita terikat dengan hal-hal seperti kecanduan menonton film, kecanduan membaca status, bangun tidur langsung cek status. Itu keterikatan mental.

Sekarang ini, dalam era modern, kecanduan itu banyak sekali. Karena manusia itu pada dasarnya cepat bosan. Rutinitas itu membosankan. Padahal hidup manusia tidak bisa tanpa rutinitas. Kalau tidak ada orang yang bekerja setiap hari jam 7 sampai jam 5, dunia tidak akan berjalan. Rutinitas itu penyangga kehidupan.

Tapi untuk mengatasi rasa bosan itu, manusia lalu mencari pelarian, dan muncullah kecanduan. Kecanduan itu bentuk keterikatan batin.

Satu-satunya keterikatan yang tidak membuat orang kecanduan adalah keterikatan kepada Allah. Makanya manusia modern ingin membunuh Allah dengan harapan bisa bebas. Tapi akibatnya justru muncul Tuhan-tuhan palsu: kecanduan-kecanduan itu.

Obat kecanduan yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh. Tahlil. Menghayati bahwa tidak ada Tuhan asli selain Allah. Kalau hati kita melekat ke situ, kita tidak akan kecanduan.

Kemudian ada juga al-awā’iq al-wahmiyyah yaitu hambatan-hambatan yang bersifat waham (khayalan mental), seperti kecemasan berlebih. Misalnya: nanti kalau begini bagaimana? Kalau begitu bagaimana? Kita terjebak kecemasan.

Tajrīd al-bāṭin adalah melepaskan adiksi-adiksi batin dan kecemasan-kecemasan yang tidak beralasan. Itu yang dalam psikologi modern disebut mental disorder. Sekarang ini memang banyak orang mengalami gangguan mental. Setelah kebutuhan material terpenuhi, dia butuh yang spiritual. Kalau tidak terpenuhi, muncul gangguan mental.

Obatnya adalah melepaskan kecanduan dan kecemasan itu.

Kalau kita bisa tajrīd az-ẓāhir dan tajrīd al-bāṭin, insyaallah hidup kita bahagia. Kuncinya hidup enak itu adalah tahu ukuran diri. Know your level, know yourself.

Sekarang kita masuk penjelasan tentang adab al-mutajarrid dan adab al-mutasabbib. Mutajarrid adalah orang yang makam hidupnya tajrid. Mutasabbib adalah orang yang makam hidupnya asbāb. Keduanya punya tata krama (etika) masing-masing.

Ada orang fakir yang mutajarrid. Ia harus:
1. Menghormati orang yang lebih tinggi derajatnya.
2. Menyayangi orang yang lebih rendah darinya.
3. Mengetahui ukuran dirinya (‘arif bi maqāmihi).
4. Tidak memaksakan keinginan lalu mencari pembenaran atau justifikasi nafsu.

Kalau seseorang itu salah, ya akui salah. Jangan memvalidasi hawa nafsu.

Adapun orang fakir yang mutasabbib (yang menjalankan sebab, bekerja, punya harta), jika Allah memberikan kelebihan rezeki, maka:
1. Bersahabat dengan orang-orang yang baik.
2. Menjauhi orang-orang yang buruk.
3. Menjaga shalat berjamaah.
4. Membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

Masing-masing punya aturan. Kalau kita menjalankan aturan itu, hidup akan harmonis dan membahagiakan.



Bekasi, 2 November 2025

Minggu, 05 Oktober 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (1): Jangan Bersandar pada Amal

 


Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam
Jamaah laki-laki Ngaji Al-Hikam


Berikut ini adalah rangkuman pengajian Ngaji Al-Hikam pertemuan ke-1 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, pada 5 Oktober 2025.

***

Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu menggantungkan diri pada kemampuan dan usaha manusia semata. Padahal, manusia memiliki keterbatasan dalam mengontrol segala hal.

Ibn ‘Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menulis:

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

"Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja' (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana."

Orang yang menggantungkan diri sepenuhnya pada pekerjaan atau usahanya, dan merasa hasil akhir sepenuhnya ditentukan oleh kerja kerasnya, akan mudah stres ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Contoh sederhana bisa kita lihat di negara-negara seperti Jepang atau Jerman. Di sana, semua sistem berjalan sangat rapi. Kereta terlambat satu menit saja sudah dianggap luar biasa. Gus Ulil pernah mengalami sendiri, kereta di Jepang terlambat tujuh menit. Sepanjang perjalanan, petugas berkali-kali meminta maaf. Itu karena keterlambatan seperti itu bisa merusak seluruh jadwal berikutnya.

Beda dengan di Indonesia. Kereta terlambat setengah jam pun dianggap hal biasa. Di Jepang dan Jerman, manusia berhasil menciptakan sistem yang sangat tertib dan efisien, sehingga mereka merasa bisa mengontrol semua variabel kehidupan. Namun, begitu ada sedikit gangguan, semuanya panik.

Itulah makna dari nuqsanurraja' yaitu orang yang terlalu percaya diri pada amal atau usahanya akan kehilangan keseimbangan begitu ada hal yang tidak sesuai rencana. Dalam bahasa sekarang, ini disebut stres atau bahkan “kiamat kecil” bagi dirinya.

Lalu muncul pertanyaan: kalau begitu, apakah amal tidak penting?

Ajaran tasawuf menjawab: amal penting, tapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Ajaran tasawuf itu seperti pintu dengan dua daun. Kalau hanya memegang satu sisi—misalnya hanya menekankan amal, tapi lupa pada hati—maka pintu itu bocor, tidak sempurna. Begitu juga sebaliknya, kalau hanya bicara hati tanpa amal, hasilnya pincang.

Jadi, amal memang penting, tapi kita tidak boleh menggantungkan harapan sepenuhnya pada amal itu. Amal harus disertai kesadaran bahwa hasilnya bergantung pada kehendak Allah.

Hal ini sama seperti hubungan kita dengan dunia. Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi kita juga tidak boleh terlalu melekat padanya. Kekayaan, misalnya, bukan sesuatu yang salah. Yang salah adalah ketika kekayaan menjadi tujuan utama hidup.

Ajaran tasawuf selalu menekankan keseimbangan. Karena pada hakikatnya, seluruh ciptaan Allah selalu berpasangan: siang dan malam, laki-laki dan perempuan, atas dan bawah. Segala sesuatu memiliki dua sisi yang saling melengkapi.

Manusia modern sering terjebak pada ilusi bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka bisa mengontrol segalanya. Dari keberhasilan itulah muncul kesombongan.

Sekarang manusia berusaha “menyelamatkan bumi” dengan slogan save the earth. Itu niat baik, tetapi kalau disertai rasa bahwa manusia mampu menyelamatkan bumi dengan kekuatannya sendiri, itu bentuk kesombongan. Padahal, yang memiliki kuasa penuh atas bumi hanyalah Allah.

Kemajuan teknologi seperti komputer dan quantum computing memungkinkan manusia membuat simulasi kehidupan. Dari situ, manusia bisa memprediksi masa depan, bahkan memprediksi kemungkinan penyakit yang akan diderita seseorang. Tapi semua itu tetap hanya simulasi, bukan kenyataan. Karena masa depan sepenuhnya ada dalam kehendak Allah.

Maka, Islam mengajarkan agar kita selalu berkata insyaallah ketika berencana melakukan sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 23-24:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ ، اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok,’ kecuali (dengan mengatakan) ‘insyaallah’.”

Artinya, manusia wajib berusaha, tapi hasil akhirnya tetap dalam kuasa Allah.

Jadi, pemahaman tasawuf harus selalu dilihat dari dua sisi: amal dan kesadaran spiritual. Amal penting, tapi amal bukan satu-satunya sebab. Amal akan bermakna jika disertai kesadaran la haula wa la quwwata illa billah: tidak ada daya dan upaya kecuali karena Allah.

Dalam konteks spiritual, Ibn ‘Athaillah menjelaskan:

"Barangsiapa mencapai hakikat Islam, dia akan selalu beramal. Barangsiapa mencapai hakikat iman, dia sadar bahwa amalnya terjadi karena Allah. Dan barangsiapa mencapai hakikat ihsan, dia menyadari bahwa tiada sesuatu pun selain Allah.”

Jadi, semakin tinggi tingkat spiritual seseorang, semakin dalam kesadarannya bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah, bukan karena dirinya sendiri.


Jamaah perempuan Ngaji Al-Hikam



Bekasi, 5 Oktober 2025