Senin, 08 Juni 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (9): Pengalaman Spiritual Penentu Kualitas Amal

 

Ngaji Al-Hikam pada 7 Juni 2026


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-8 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Juni 2026.

*****

تَنَوُّعُ أَجْنَاسِ الْأَعْمَالِ بِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ

Tanawwu‘u ajnāsil-a‘māli bi tanawwu‘i wāridātil-aḥwāl.

Kalimat hikmah ini sangat singkat. Namun, jika diuraikan, maknanya begitu luas dan mendalam.

Kata tanawwu‘ berarti beraneka ragam atau berwarna-warni. Sementara ajnāsul-a‘māl berarti berbagai jenis amal. Adapun frasa bi tanawwu‘i wāridātil-aḥwāl menunjukkan bahwa perbedaan kualitas amal dipengaruhi oleh beragamnya wāridātil ahwāl, yaitu pengalaman-pengalaman spiritual atau batin yang hadir dalam diri seseorang.

Dengan kata lain, nilai sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, tetapi juga oleh pengalaman batin yang menyertai ketika amal itu dilakukan.

Dua orang bisa mengerjakan amal yang sama, tetapi pengalaman yang mereka rasakan sangat berbeda. Karena itulah, kualitas amal keduanya pun tidak selalu sama.

Untuk memudahkan pemahaman, bayangkan ada beberapa orang melakukan perjalanan wisata dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan bus yang sama.

Seluruh penumpang berada dalam kendaraan yang sama, menempuh rute yang sama, dan berangkat serta tiba pada waktu yang hampir bersamaan. Namun, pengalaman setiap orang selama perjalanan pasti berbeda.

Ada penumpang yang sejak awal hingga akhir perjalanan hanya menatap layar telepon genggamnya. Ia tidak menyadari kapan bus melewati Cirebon, Tegal, Brebes, atau Pekalongan. Tahu-tahu perjalanan telah selesai dan bus sudah tiba di Yogyakarta.

Ada pula penumpang yang sepanjang perjalanan asyik berbincang dengan teman di sebelahnya. Ia juga tidak memperhatikan kota-kota yang dilalui karena seluruh perhatiannya tercurah pada obrolan.

Sementara itu, ada penumpang lain yang justru menikmati setiap detik perjalanan. Ia mengamati pemandangan di sepanjang jalan, memperhatikan setiap kota yang dilewati, bahkan setibanya di Yogyakarta langsung menuliskan laporan perjalanan secara rinci. Semua yang dilihatnya selama di perjalanan terekam dengan baik.

Inilah yang disebut wāridātil aḥwāl, yakni pengalaman yang hadir dalam diri seseorang.

Contoh di atas masih bersifat duniawi. Namun, yang dimaksud dalam hikmah ini adalah pengalaman spiritual.

Misalnya, dua orang datang ke masjid yang sama untuk melaksanakan salat berjamaah. Mereka mengerjakan salat Isya atau Subuh yang sama, di tempat yang sama, dengan imam yang sama. Akan tetapi, pengalaman spiritual yang mereka rasakan bisa sangat berbeda.

Bahkan seseorang yang sama pun dapat mengalami keadaan yang berbeda dari satu waktu ke waktu lainnya. Salat Subuh yang saya kerjakan hari ini tentu tidak sama pengalaman batinnya dengan salat Subuh yang saya kerjakan kemarin.

Di sinilah letak inti hikmah ini. Yang menentukan kualitas dan corak amal seseorang bukan semata-mata bentuk amalnya, melainkan wāridātil aḥwāl yang menyertainya.

Karena itu, orang yang benar-benar memahami persoalan ini tidak hanya sibuk mengejar banyaknya amal. Amal memang penting, tetapi yang lebih utama adalah mencari pengalaman spiritual yang lahir dari amal tersebut.


Penjelasan tentang Wāridātil Aḥwāl

Pengalaman spiritual atau wāridātil aḥwāl terkadang dapat dikondisikan melalui suasana tertentu.

Misalnya, lampu ruangan dibuat temaram ketika salat, dibakar menyan, lalu diperdengarkan musik Kitaro atau musik-musik sufi yang banyak tersedia di YouTube. Salat malam dilakukan dengan iringan musik yang diputar pelan melalui sistem suara yang berkualitas. Semua itu, dalam batas tertentu, dapat membangun suasana sehingga seseorang merasakan wāridātul-aḥwāl.

Orang yang pandai menciptakan suasana seperti ini, misalnya, adalah Ary Ginanjar. Ia mampu membangun atmosfer yang mendorong munculnya pengalaman batin pada pesertanya.

Namun demikian, wāridātul-aḥwāl yang lahir karena rekayasa suasana tentu berbeda dengan pengalaman spiritual yang muncul secara alami dari dalam diri seseorang. Tanpa lampu temaram, tanpa menyan, dan tanpa musik, seseorang tetap mampu merasakan kehadiran pengalaman batin itu. Inilah tingkatan yang jauh lebih tinggi.

Para kiai kita dahulu adalah contoh nyata. Langgar yang mereka gunakan hanyalah langgar sederhana. Sejadahnya pun sejadah lama buatan Cina dengan gambar kapal Marina yang sudah sangat dikenal pada masanya. Bahkan, kadang-kadang sudah berbau. Meski demikian, wāridātul-aḥwāl mereka begitu melimpah. Justru pengalaman batin seperti itulah yang membuat amal memiliki kualitas yang tinggi.

Karena itulah Ibnu ‘Athaillah berkata:

تَنَوُّعُ أَجْنَاسِ الْأَعْمَالِ بِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ

Tanawwu‘u ajnāsil-a‘māli bi tanawwu‘i wāridātil-aḥwāl.

Selanjutnya, Imam Ibnu ‘Ajibah dalam syarahnya menjelaskan:

وَلِأَجْلِ هَذَا الْمَعْنَى اخْتَلَفَتْ أَحْوَالُ الصُّوفِيَّةِ

Karena alasan inilah keadaan para sufi berbeda-beda.

فَمِنْهُمْ عُبَّادٌ

Di antara mereka ada yang menonjol sebagai ahli ibadah.

وَمِنْهُمْ زُهَّادٌ

Ada pula yang dikenal sebagai orang-orang zuhud. Ibadahnya mungkin tidak sebanyak kelompok pertama, tetapi ia memiliki sifat zuhud, yaitu mampu menjaga jarak dari dunia. Dunia tidak menguasai dirinya.

Seseorang bisa saja rajin beribadah, tetapi masih sangat mencintai harta. Sebaliknya, ada pula orang yang ibadahnya biasa-biasa saja, tetapi tidak diperbudak oleh materi. Ia mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak dikuasai oleh kepentingan duniawi.

Kemudian beliau melanjutkan:

وَمِنْهُمُ الْوَرِعُونَ وَالْمُرِيدُونَ وَالْعَارِفُونَ

Ada pula golongan yang wara‘, murid, dan ‘arif.

Orang yang wara‘ adalah mereka yang mampu menjaga diri dari perkara-perkara yang haram maupun makruh.

Adapun al-murīdūn adalah orang-orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah.

Sementara al-‘ārifūn ialah mereka yang telah mengenal Allah.

Inilah berbagai tingkatan pengalaman yang dimiliki para wali Allah atau para ahli sufi.

Penjelasan tersebut juga dikemukakan oleh Syekh Zarruq, salah seorang pensyarah Al-Hikam yang paling masyhur. Di samping beliau, terdapat pula syarah karya Syekh An-Nibrawi yang banyak dicetak dalam edisi Menara Kudus dan umum dijumpai di toko-toko kitab pesantren.

Namun, sesungguhnya syarah Syekh Zarruq merupakan salah satu yang paling terkenal dan menjadi rujukan penting bagi Syekh Nuruddin dalam kitab Iqāẓul Himam fi Syarhil Hikam.

Syekh Zarruq kemudian menjelaskan:

النُّسُكُ الْأَخْذُ بِكُلِّ مَا سَكَنَ مِنَ الْفَضَائِلِ مِنْ غَيْرِ مُرَاعَاةٍ لِغَيْرِ ذَلِكَ

Yang dimaksud an-nusuk atau an-nusk adalah ibadah. Ibadah ialah melakukan segala bentuk keutamaan dan kebaikan tanpa mempedulikan hal-hal selainnya.

Fokus seseorang hanyalah mengerjakan berbagai faḍā’il atau keutamaan-keutamaan.

Kemudian beliau melanjutkan:

فَإِنْ رَاعَى تَحْقِيقَ ذَلِكَ أَيْ النُّسُكِ فَهُوَ الْعَابِدُ

Apabila tujuan seseorang dalam melakukan berbagai keutamaan itu adalah at-taḥqīq, maka ia disebut sebagai al-‘ābid.

Apa yang dimaksud at-taḥqīq?

Istilah ini berasal dari kata ḥaqq, yang berarti kebenaran atau kenyataan yang sesungguhnya. Taḥqīq berarti memahami sesuatu hingga mencapai inti kebenarannya, mengenali hakikatnya sampai ke akar-akarnya.

Memang tidak mudah mencari padanan kata yang benar-benar tepat dalam bahasa Indonesia. Namun, kurang lebih demikianlah makna yang dimaksud.

Karena itu, apabila seseorang melakukan berbagai amal kebaikan dengan landasan taḥqīq, sesuai tuntunan syariat dan memahami hakikat amal tersebut, maka ia termasuk golongan al-‘ābid, yakni orang yang benar-benar ahli dalam beribadah.

Selanjutnya, Syekh Zarruq menjelaskan:

وَإِنْ مَالَ لِلْأَخْذِ بِالْأَحْوَطِ فَهُوَ الْوَرِعُ

Apabila seseorang lebih cenderung memilih jalan yang paling hati-hati, maka ia termasuk golongan al-wari‘.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada dua pilihan. Yang satu lebih mudah, tetapi mengandung keraguan. Yang lain mungkin lebih berat, namun lebih aman dan lebih jelas. Orang yang wara‘ akan memilih jalan yang kedua.

Sikap ini bukan karena sesuatu itu sudah jelas haram atau wajib. Sebaliknya, meskipun perkara tersebut masih berada dalam wilayah yang dibolehkan, ia tetap memilih langkah yang paling aman demi menjaga diri.

Pengalaman batin seorang ‘abid tentu berbeda dengan pengalaman seorang wari‘.

Misalnya, seseorang memiliki dua pakaian untuk dipakai salat. Yang satu dibelinya sendiri dengan uang yang jelas kehalalannya. Yang lain merupakan hadiah dari seseorang, tetapi asal-usul hartanya tidak diketahui secara pasti.

Karena ingin menjaga kehati-hatian, ia memilih memakai pakaian yang dibeli sendiri. Bukan karena pakaian hadiah itu pasti haram, melainkan karena ia ingin memastikan bahwa ibadahnya terbebas dari segala keraguan. Inilah yang disebut sebagai sikap wara‘.

Ada pula kisah tentang seorang yang memiliki tingkat wara‘ yang sangat tinggi hingga dianugerahi kepekaan rohani. Setiap selesai berceramah dan menerima amplop, ia dapat merasakan keadaan uang yang diterimanya.

Jika uang itu berasal dari sumber yang benar-benar halal, ia merasakan kesejukan ketika menerimanya. Jika terasa sedikit panas, ia mulai menduga ada sesuatu yang kurang beres. Apabila panasnya sangat terasa, menurutnya uang itu berasal dari sumber yang haram.

Uang yang diragukan atau bahkan diyakini tidak halal itu kemudian disumbangkan untuk masjid. Adapun untuk keluarganya, ia hanya menggunakan uang yang terasa "adem", yaitu yang diyakininya berasal dari sumber yang halal.

Kalau penceramah sekarang mungkin tidak perlu repot. Menerima uang apa pun rasanya sama saja. Tidak ada yang panas dan tidak ada yang adem.

Hal itu terjadi karena kita belum memiliki kepekaan untuk membedakan mana yang benar-benar lebih hati-hati dan mana yang tidak. Semua itu berkaitan dengan pengalaman batin.

Seseorang yang rela meninggalkan sesuatu demi memperoleh keselamatan, meskipun sebenarnya hal itu tidak haram, sedang menempuh jalan tertentu dalam kehidupan spiritualnya.

Ia memilih tidak melakukan sesuatu karena khawatir akan membawa akibat yang kurang baik. Demi keselamatan, ia meninggalkannya walaupun secara hukum tetap halal.

Jika sikap itu didorong oleh keinginan memilih jalan yang paling hati-hati, itulah yang disebut wara‘.

Sementara itu, apabila seseorang mampu menjaga jarak dari dunia demi keselamatan rohaninya, itulah yang disebut zuhud.

Adapun orang yang telah menyerahkan seluruh kehendaknya kepada Allah, sehingga tidak lagi memperturutkan kehendak dirinya sendiri dan sepenuhnya mengikuti apa yang Allah kehendaki, maka ia disebut sebagai seorang ‘arif.

Sedangkan orang yang berusaha membentuk akhlaknya sesuai dengan akhlak yang diridai Allah serta terus mendekat kepada-Nya disebut sebagai murid, yaitu orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah.

Dengan demikian, murid, 'arif, zahid, wari‘, dan ‘abid merupakan lima kategori yang masing-masing memiliki aḥwāl atau pengalaman batin yang berbeda-beda.

Inti dari seluruh penjelasan ini adalah bahwa pengalaman batinlah yang menentukan kualitas amal. Bentuk amalnya boleh jadi sama, tetapi pengalaman yang menyertainya berbeda.

Karena itulah dua orang bisa menikmati secangkir kopi yang sama, tetapi merasakan pengalaman yang sama sekali berbeda.

Ada orang yang sekadar meminum kopi. Ada pula yang memahami kisah di baliknya: dari mana asal bijinya, bagaimana proses pengolahannya, siapa petaninya, hingga bagaimana kopi itu akhirnya tersaji di hadapannya.

Tidak jarang, cerita-cerita itu juga didramatisasi oleh penjual agar menghadirkan pengalaman tertentu bagi pembelinya. Tujuannya adalah membangkitkan wāridātul-aḥwāl. Karena pengalaman itulah, harga secangkir kopi bisa menjadi jauh lebih mahal.

Fenomena seperti ini sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan modern.

Dalam dunia bisnis saat ini, yang diperdagangkan bukan hanya barang, tetapi juga pengalaman. Orang menjual experience. Yang dibeli konsumen sering kali bukan sekadar produk, melainkan sensasi, cerita, dan kesan yang menyertainya.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa sekarang berkembang apa yang bisa disebut sebagai bisnis aḥwāl. Orang menjual pengalaman.

Pengalaman sangat ditentukan oleh narasi. Semakin kuat sebuah cerita dibangun, semakin kuat pula pengalaman yang dirasakan oleh orang yang menikmatinya.

Mereka yang piawai menulis narasi mampu menghadirkan pengalaman batin yang berbeda-beda kepada pembacanya. Sebuah produk yang sebenarnya biasa saja dapat terasa istimewa karena dibungkus dengan kisah yang menyentuh.

Hal seperti ini sesungguhnya telah lama dikenal oleh para sufi, jauh sebelum menjadi strategi pemasaran modern.

Mereka telah memahami bahwa setiap orang dapat mengalami aḥwāl yang berbeda-beda. Perbedaan pengalaman batin itulah yang kemudian menentukan kualitas amal seseorang.

Karena itu, inti dari hikmah ini bukan semata-mata memperbanyak amal, melainkan memperhatikan pengalaman spiritual yang lahir ketika amal itu dilakukan.

Satu amal yang dikerjakan dengan wāridātul-aḥwāl yang mendalam dapat memiliki kualitas yang jauh berbeda dibandingkan amal yang sama, tetapi dilakukan tanpa kehadiran pengalaman batin.

Itulah makna hikmah Ibnu ‘Athaillah:

تَنَوُّعُ أَجْنَاسِ الْأَعْمَالِ بِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ 

Tanawwu‘u ajnāsil-a‘māli bi tanawwu‘i wāridātil-aḥwāl.

Beragamnya jenis dan kualitas amal manusia pada akhirnya ditentukan oleh beragamnya wāridātil aḥwāl, yaitu pengalaman-pengalaman batin atau spiritual yang hadir ketika amal itu dilaksanakan.


Bekasi, 7 Juni 2026


Minggu, 07 Juni 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (8): Saat Allah Menyapa Hamba-Nya

 

Ngaji Al-Hikam hikmah ke-8, pada 7 Juni 2026


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-8 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Juni 2026.

*****

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Apabila Dia (Allah) membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau berpikir (hadirnya) pengenalan itu sebab sedikitnya amal-amalmu (yang telah kau lakukan); karena sesungguhnya, Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu. Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Pada hikmah ke-8 dalam Kitab Al-Hikam ini, kita memasuki pembahasan yang sangat mendalam tentang hubungan antara Allah dan hamba-Nya. Jika pada hikmah-hikmah sebelumnya Imam Ibnu 'Athaillah banyak berbicara tentang amal, doa, dan ikhtiar, kali ini beliau membawa kita kepada tema yang lebih subtil, yaitu ta'arruf.

Perlu dipahami bahwa Al-Hikam bukanlah kitab yang lahir dari perenungan intelektual semata. Kitab ini merupakan himpunan pengalaman spiritual seorang wali Allah, Imam Ibnu 'Athaillah as-Sakandari. Kalimat-kalimat yang tersusun di dalamnya lahir dari الأحوال (al-ahwāl), yakni keadaan-keadaan ruhani yang beliau alami dalam perjalanan menuju Allah. Karena itulah setiap hikmah memiliki kedalaman makna yang terus dapat direnungkan sepanjang zaman.


Apa Itu Ta'arruf?

Secara bahasa, ta'arruf berarti mengenal atau mengenali, sedangkan ta'āruf berarti saling berkenalan. Perbedaan keduanya tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang penting.

Selama ini kita lebih sering berbicara tentang cara seorang hamba mengenal Allah. Sementara Imam Ibnu 'Athaillah mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda yakni Allah pun berkehendak mengenali dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Dengan kata lain, hubungan antara Allah dan hamba bukanlah hubungan satu arah, melainkan sebuah hubungan yang melibatkan dua pihak.

Dalam kehidupan sehari-hari, perkenalan selalu membutuhkan dua pihak. Seseorang dapat berinisiatif mendekati orang lain, atau justru orang lain yang lebih dahulu menyapa. Begitu pula dalam perjalanan spiritual. Ada kalanya manusia berusaha mendekat kepada Allah melalui ibadah dan amal saleh. Namun ada pula saat ketika Allah sendiri yang "menyapa" hamba-Nya.

Kalau dianalogikan dengan media sosial, seseorang terkadang mengirim poke atau sekadar menyenggol agar diperhatikan. Demikian pula dalam kehidupan rohani. Ada saat-saat ketika Allah "menyenggol" seorang hamba agar ia menyadari kehadiran-Nya. Itulah yang disebut ta'arruf.

Menariknya, dalam matan Al-Hikam ini, Imam Ibnu 'Athaillah tidak menyebut nama "Allah" secara eksplisit. Beliau langsung menggunakan dhamir atau kata ganti "Dia". Cara penulisan ini bukan tanpa alasan. Seolah-olah beliau ingin mengatakan bahwa dalam seluruh perjalanan hidup seorang mukmin, arah pandang yang dimaksud sudah jelas: semuanya bermuara kepada Allah.


Amal Bukan Segalanya


Imam Ibnu 'Athaillah kemudian menegaskan:

فلا تُبالِ معها إن قلَّ عملك

"Maka janganlah engkau memperdulikan, bersamaan dengan itu, walaupun amalmu sedikit."

Kalimat ini tidak berarti amal menjadi tidak penting. Namun ingin ditekankan adalah bahwa seorang hamba tidak perlu terjebak menghitung-hitung banyak atau sedikitnya amal ketika Allah telah membukakan pintu pengenalan kepada-Nya.

Sering kali kita mengukur kedekatan dengan Allah berdasarkan banyaknya ibadah. Ada yang merasa dirinya lebih dekat karena rajin salat malam, banyak berzikir, atau rutin berpuasa sunnah. Semua itu tentu merupakan amal yang mulia. Akan tetapi, Imam Ibnu 'Athaillah mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar banyaknya amal, yaitu perhatian Allah kepada seorang hamba.

Seseorang boleh saja menghidupkan malamnya dengan berbagai ibadah, tetapi apabila Allah belum memberikan perhatian khusus kepadanya, maka kedudukannya berbeda dengan orang yang telah memperoleh sentuhan kasih sayang Allah. Sebaliknya, seorang hamba yang amalnya sederhana, tetapi telah dipilih Allah untuk mengenal-Nya, memperoleh karunia yang tidak dapat diukur dengan hitungan amal semata.

Bagaimana Allah memilih seseorang untuk mendapatkan perhatian-Nya? Tidak ada seorang pun yang mampu menjawabnya. Itu sepenuhnya merupakan hak Allah. Tidak ada rumus, tidak ada ukuran, dan tidak ada kepastian yang bisa dijadikan patokan oleh manusia.

Bayangkan seorang santri yang telah bertahun-tahun belajar di pesantren, tetapi belum pernah dipanggil oleh kiai. Namun di sisi lain, ada santri yang baru beberapa hari mondok, sudah dipanggil untuk berbincang secara khusus. Tentu keduanya sama-sama belajar, tetapi santri yang dipanggil akan merasakan bahwa dirinya memperoleh perhatian yang berbeda.

Begitulah kira-kira gambaran perhatian Allah kepada hamba-Nya. Ketika Allah telah "menyapa" seseorang, itulah nikmat yang sangat besar. Persoalannya bukan lagi apakah ia kaya atau miskin, banyak amal atau sedikit amal, melainkan bahwa Allah telah berkehendak mendekatkannya kepada-Nya.



Santri perempuan Ghazalia College Jatibening


Allah yang Memulai Perkenalan

Imam Ibnu 'Athaillah kemudian menjelaskan alasan mengapa seorang hamba tidak perlu terlalu sibuk menghitung banyak atau sedikitnya amal. Beliau berkata:

فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ

"Sesungguhnya Allah tidak membuka jalan itu kepadamu kecuali karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu."

Kalimat ini merupakan inti dari pembahasan tentang ta'arruf. Imam Ibnu 'Athaillah mengajak kita melihat hubungan dengan Allah dari sudut pandang yang berbeda.

Selama ini kita sering merasa bahwa kita sedang berusaha mencari Allah. Kita memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semua itu memang penting. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu ketika Allah sendiri berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada seorang hamba.

Artinya, kedekatan dengan Allah bukan semata-mata hasil usaha manusia. Ada karunia yang mendahului semua ikhtiar itu. Ketika Allah membuka pintu pengenalan, sesungguhnya Allah sedang mengundang hamba tersebut untuk semakin dekat kepada-Nya. Lalu Imam Ibnu Athaillah melanjutkan:

أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ

"Tidakkah engkau tahu bahwa pengenalan dari-Nya itulah yang Dia datangkan kepadamu?"

Jadi, bukan manusia yang berhasil menemukan Allah dengan kemampuannya sendiri, melainkan Allah yang lebih dahulu berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada manusia.

Seorang hamba boleh saja memiliki keinginan untuk mengenal Allah. Namun keinginan itu belum tentu berbuah kedekatan. Sebaliknya, ketika Allah sendiri berkehendak mendekati seorang hamba, maka itulah anugerah yang jauh melampaui nilai amal apa pun.

Inilah sebabnya Imam Ibnu 'Athaillah mengatakan bahwa amal hanyalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya, sedangkan ta'arruf adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya. Tentu keduanya tidak dapat dibandingkan. Hadiah dari manusia kepada Allah tidak akan pernah sebanding dengan karunia Allah kepada manusia.


Bentuk-Bentuk Ta'arruf Allah


Lalu muncul pertanyaan, bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya kepada seorang hamba?

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ta'arruf Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang menyenangkan. Bahkan sering kali Allah memperkenalkan diri-Nya melalui berbagai peristiwa yang tidak pernah kita harapkan.

Salah satunya adalah melalui cobaan hidup. Penyakit, kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, atau berbagai ujian lainnya bisa menjadi cara Allah menyapa seorang hamba. Karena itu, para sufi memandang cobaan dengan cara yang berbeda. Mereka tidak tergesa-gesa melihat musibah sebagai hukuman, melainkan sebagai tanda bahwa Allah sedang mengarahkan perhatian-Nya kepada mereka.

Cara pandang seperti ini memang tidak mudah. Ketika hidup sedang sulit, yang muncul pertama kali biasanya adalah keluhan. Namun para wali Allah justru berusaha melihat makna di balik setiap ujian. Mereka meyakini bahwa setiap cobaan bisa menjadi jalan untuk semakin mengenal Allah.

Sebaliknya, kehidupan yang selalu berjalan mulus juga perlu disikapi dengan kewaspadaan. Bukan berarti nikmat adalah sesuatu yang buruk, tetapi jangan sampai seseorang terlena sehingga merasa tidak lagi membutuhkan Allah.

Perumpamaan tentang santri yang dipanggil oleh kiai kembali relevan. Ada santri yang bertahun-tahun mondok tetapi tidak pernah diajak berbicara secara khusus. Ada pula yang baru beberapa hari sudah dipanggil. Perhatian itu memberikan makna yang berbeda.

Begitu pula dalam kehidupan spiritual. Ada kalanya Allah menyapa seorang hamba melalui jalan yang tidak pernah diduganya.

Karena itu, para wali Allah bahkan menyebut musibah sebagai "hari raya" mereka. Bukan karena mereka menikmati penderitaan, melainkan karena mereka melihat musibah sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan Allah.

Pandangan ini tentu membutuhkan hati yang matang. Tidak semua orang mampu melihat cobaan sebagai bentuk kasih sayang Allah. Namun setidaknya, hikmah ini mengajarkan agar kita tidak terburu-buru berprasangka buruk ketika ujian datang. Bisa jadi, justru pada saat itulah Allah sedang memperkenalkan diri-Nya kepada kita.


Penjelasan Ibnu 'Ajibah

Ibnu 'Ajibah menjelaskan tentang bentuk-bentuk ta'arruf ini.

واعلم أن هذه التعرُّفات الجلالية هي اختبار من الحق وميزان من الناس، تُعرف بها الفضة والذهب من النحاس

"Ketahuilah bahwa ta'arruf jalali ini merupakan ujian dari Allah dan alat ukur bagi manusia, yang dengannya dapat dibedakan antara perak dan emas dari tembaga."

Menurut Ibnu 'Ajibah, salah satu fungsi ujian adalah menampakkan kualitas seseorang. Sebagaimana emas dibedakan dari logam biasa melalui proses tertentu, demikian pula kualitas iman manusia baru benar-benar terlihat ketika ia berhadapan dengan ujian.

Banyak orang mengaku beriman ketika hidupnya tenang. Namun sedikit saja mendapat kesulitan, keyakinannya mulai goyah. Di situlah ujian menjadi cermin yang memperlihatkan kualitas keimanan seseorang.


Santri laki-laki Ghazalia College Jatibening


Tiga Bentuk Ta'arruf Allah

Ibnu 'Ajibah kemudian menjelaskan bahwa para ulama membagi ta'arruf Allah kepada hamba-Nya ke dalam beberapa bentuk. Semuanya merupakan cara Allah memperkenalkan diri kepada manusia, meskipun wujudnya berbeda-beda.

Bentuk pertama adalah melalui siksaan atau penolakan. Pada keadaan ini, seseorang seakan-akan dijauhkan dari berbagai kenikmatan. Jalan hidupnya terasa sempit, doanya seperti belum menemukan jawaban, dan berbagai kesulitan datang silih berganti. Inilah bentuk ta'arruf yang paling berat karena menuntut kesabaran dan keteguhan hati yang luar biasa.

Bentuk kedua adalah melalui ta'dib atau pendidikan. Allah mendidik hamba-Nya melalui berbagai pengalaman hidup. Seseorang mungkin melakukan kesalahan, lalu Allah membukakan aibnya agar ia segera bertaubat. Ada pula yang memperoleh pelajaran melalui kegagalan, kehilangan, atau pengalaman pahit yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Semua itu bukan semata-mata hukuman, melainkan proses pendidikan agar seorang hamba kembali kepada jalan yang benar.

Bentuk ketiga adalah melalui nikmat. Rezeki yang lapang, kesehatan, keluarga yang harmonis, kemudahan dalam pekerjaan, bahkan kenaikan jabatan, semuanya juga dapat menjadi bentuk *ta'arruf* Allah. Nikmat bukan hanya pemberian, tetapi juga ujian. Melalui nikmat, Allah ingin melihat apakah seorang hamba semakin bersyukur atau justru semakin jauh dari-Nya.

Karena itu, baik musibah maupun nikmat sama-sama dapat menjadi jalan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Persoalannya bukan terletak pada bentuk peristiwanya, melainkan pada kesadaran hati dalam membacanya.

Tidak sedikit orang yang memperoleh nikmat tetapi tidak merasa sedang disapa oleh Allah. Sebaliknya, ada orang yang justru menemukan kedekatan dengan Allah ketika hidupnya dipenuhi ujian.

Padahal, setiap saat Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia melalui berbagai peristiwa yang mereka alami.


Hakikatnya Hanya Satu

Penjelasan yang tidak kalah menarik datang dari Syaikh Abu al-'Arabi. Beliau mengatakan:

ما هي إلا حقيقة واحدة

"Tidaklah ada kecuali satu hakikat saja."

Ungkapan singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Menurut beliau, berbagai pengalaman hidup yang dialami manusia pada akhirnya bersumber dari satu hakikat yang sama, yaitu Allah.

Untuk menjelaskan maksudnya, beliau memberikan sebuah perumpamaan.

إن شربتها عسلاً وجدتها عسلاً

Jika engkau meminumnya dalam bentuk madu, rasanya tentu manis.

وإن شربتها لبناً

Jika engkau meminumnya dalam bentuk susu, rasanya lembut dan menenangkan.

وإن شربتها حنظلاً

Jika engkau meminumnya dalam bentuk ḥanẓal, rasanya pahit.

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup memang memiliki rasa yang berbeda-beda. Ada yang menghadirkan kebahagiaan, ada yang menenangkan hati, dan ada pula yang terasa pahit. Namun semua itu berasal dari sumber yang sama.

Ketika seseorang memperoleh rezeki yang luas, ia merasakan manisnya kehidupan. Ketika memperoleh keluarga yang harmonis atau sahabat yang baik, hidup terasa lembut dan menenangkan. Sebaliknya, ketika diuji dengan kehilangan, sakit, atau kegagalan, hidup terasa pahit.

Walaupun demikian, semuanya tetap datang dari Allah. Karena itu, Syekh Abu al-'Arabi kembali menegaskan:

ما هي إلا حقيقة واحدة

Hakikatnya hanya satu. Semua pengalaman hidup merupakan bagian dari cara Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya.


Tasawuf dan Stoisisme

Pandangan ini memiliki kemiripan dengan filsafat Stoa (Stoicism) yang berkembang di Yunani kuno. Di Indonesia, pemikiran tersebut dikenal luas melalui buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Dalam Stoisisme, orang bijaksana diibaratkan seperti batu besar yang berdiri tegak di tengah padang pasir. Panas matahari, hujan deras, bahkan banjir sekalipun tidak mengubah keteguhannya. Batu itu tetap berada pada tempatnya.

Begitu pula manusia yang memiliki kebijaksanaan. Ia tidak mudah dikuasai oleh keadaan di sekelilingnya. Ketika memperoleh nikmat, ia tidak larut dalam kegembiraan yang berlebihan. Sebaliknya, ketika ditimpa musibah, ia tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Dalam batas tertentu, cara pandang ini memiliki kemiripan dengan tasawuf. Seorang sufi berusaha memandang setiap keadaan sebagai bagian dari kehendak Allah. Ia tidak membiarkan dirinya dikendalikan oleh perubahan keadaan, melainkan menjadikan setiap pengalaman sebagai jalan untuk semakin mengenal Tuhannya.

Namun demikian, tasawuf tidak mengajarkan sikap pasif terhadap realitas sosial. Ketika melihat ketidakadilan, kemiskinan, atau penindasan, seorang mukmin tetap memiliki tanggung jawab untuk berikhtiar memperbaikinya. Ketenangan batin bukan berarti menutup mata terhadap persoalan masyarakat.

Karena itu, keteguhan hati dan kepedulian sosial bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan.


Bekasi, 7 Juni 2026

Minggu, 10 Mei 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (7): Jangan Ragukan Janji Allah Meski Doa Belum Terkabul

 

Foto bersama santri laki-laki usai ngaji Al-Hikam

Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-7 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 10 Mei 2026.


*****


لاَ يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوعِ الْمَوْعُودِ وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَانُهُ لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ


“Jangan sampai keterlambatan terkabulnya doa membuatmu ragu pada janji Allah, karena akan membuat cahaya batinmu menjadi padam."

Dalam beberapa hikmah terakhir, pembahasan Al-Hikam banyak berkaitan dengan doa. Salah satu persoalan besar yang dihadapi orang-orang beriman adalah soal dikabulkannya doa.

Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian.”

Ayat ini melahirkan pertanyaan yang sejak dulu hingga sekarang selalu hadir di hati banyak orang beriman. Kita diperintahkan berdoa, lalu kita pun berdoa. Namun sering kali muncul pengalaman batin: mengapa doa terasa tidak kunjung terkabul?

Seseorang bisa saja berkata dalam hatinya:

“Saya sudah berdoa setiap hari, salat setiap hari, meminta kepada Allah terus-menerus. Tetapi mengapa belum juga terwujud?”

Lalu timbul pertanyaan yang lebih dalam lagi:

“Bukankah Allah berjanji akan mengabulkan doa? Kalau begitu, mengapa belum terkabul?”

Pertanyaan semacam ini hampir pasti pernah dialami oleh semua orang beriman, meskipun sering kali hanya dipendam dalam hati.


Bukan Utang

Pada hikmah sebelumnya, Ibn ‘Athaillah sudah mengingatkan:

 لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ

“Jangan sampai keterlambatan pemberian Allah, meskipun engkau sudah sungguh-sungguh berdoa, membuatmu berputus asa.”

Menurut penjelasan Ibn ‘Ajibah Al-Husaini, doa pertama-tama harus dipahami sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

Kita berdoa karena kita adalah hamba. Fungsi utama doa bersifat تَعَبُّدِيَّة (ta‘abbudiyah), yakni sebagai bentuk penghambaan dan penyembahan kepada Allah.

Seorang hamba meminta kepada Tuannya adalah sesuatu yang wajar. Anak meminta kepada orang tuanya adalah sesuatu yang normal. Maka manusia meminta kepada Allah juga merupakan sesuatu yang sewajarnya.

Karena itu, hakikat utama doa bukanlah “menagih” Allah agar segera memenuhi permintaan kita. Doa bukan seperti menagih proposal yang belum cair.

Tentu kita berharap doa dikabulkan. Namun mindset utama dalam berdoa seharusnya adalah:

“Ya Allah, aku ini hamba-Mu, dan Engkau adalah Tuhanku. Karena itulah aku meminta kepada-Mu.”

Ketika seseorang berdoa dengan kesadaran kehambaan seperti ini, justru doa menjadi lebih jernih dan penuh adab. Tidak ada nada memaksa atau menekan Allah.


Foto bersama santri perempuan usai Ngaji Al-Hikam


Jangan biarkan keraguan tumbuh

Hikmah ketujuh ini melanjutkan pembahasan tersebut. Ibn ‘Athaillah mengingatkan bahwa ketika janji Allah tampak belum terwujud, jangan sampai hal itu melahirkan keraguan kepada Allah.

 لاَ يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ

“Jangan sampai hal itu membuatmu ragu terhadap janji Allah.”

Pokok persoalannya adalah تَشْكِيك (tasykik), yakni keraguan.

Keraguan dalam perjalanan iman adalah sesuatu yang bisa dialami siapa saja. Bahkan orang beriman pun, jika jujur terhadap dirinya sendiri, mungkin pernah mengalami pertanyaan-pertanyaan batin:

“Mengapa Allah belum memenuhi janji-Nya?”

Apalagi di zaman modern seperti sekarang, sumber keraguan terhadap agama sangat banyak. Informasi yang menggoyahkan keyakinan datang dari berbagai arah.

Karena itu, keraguan tidak boleh dibiarkan tumbuh begitu saja. Jika dibiarkan, ia perlahan akan menggerogoti iman.

Awalnya mungkin hanya satu persen. Tetapi lama-kelamaan bisa menjadi dua persen, lima persen, sepuluh persen, hingga akhirnya menguasai hati sepenuhnya.

Mengatasi keraguan

Dalam tradisi Islam, keraguan diatasi melalui dua pendekatan sekaligus.

Pertama, melalui argumentasi rasional. Inilah wilayah ilmu kalam dan ilmu tauhid. Keraguan dijawab dengan dalil-dalil rasional.

Islam tidak mengajarkan iman tanpa dasar. Berbeda dengan sebagian pengertian Barat tentang faith yang sering dipahami sebagai “percaya tanpa bukti”, iman dalam Islam justru menuntut adanya dalil.

Seseorang tidak boleh sekadar percaya tanpa alasan. Harus ada dasar rasional mengapa ia percaya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama sering memberikan contoh sederhana, "Kalau ada bekas kaki unta di padang pasir, pasti sebelumnya ada unta yang lewat. Kalau ada kotoran sapi, pasti ada sapinya."

Begitu pula alam semesta ini. Kalau alam ada, pasti ada yang menciptakannya.

Dalil sederhana semacam ini bisa dipahami bahkan oleh orang awam.

Kedua, melalui pendekatan hati. Di sinilah wilayah tasawuf.

Setelah iman diperkuat oleh akal, ia perlu diperdalam melalui pengalaman batin. Ketika seseorang beribadah, berdoa, dan mendekat kepada Allah, lahirlah pengalaman spiritual yang membuat keyakinan menjadi lebih kokoh.

Karena itu, keraguan tidak hanya menyerang akal, tetapi juga hati. Maka pengobatannya pun harus menyentuh keduanya.

Ibn ‘Athaillah memperingatkan bahwa keraguan bisa merusak mata batin manusia.

لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ

“Jangan sampai hal itu melukai mata batinmu dan memadamkan cahaya rahasia hatimu.”

Dalam pandangan para sufi, manusia memiliki lapisan-lapisan batin.

Ada قَلْب (qalb/hati), lalu di dalam hati terdapat بَصِيرَة (bashirah), yaitu mata batin. Di pusat terdalam terdapat سَرِيرَة (sarirah), inti rahasia batin manusia.


Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil


Jika keraguan terus dibiarkan, maka cahaya dalam mata batin itu perlahan akan redup, bahkan bisa padam sama sekali.

Ketika cahaya batin padam, manusia kehilangan orientasi hidup. Secara lahiriah mungkin tetap hidup, kaya, dan makmur, tetapi secara batin mengalami kekosongan.

Di sinilih salah satu problem besar manusia modern.

Kemajuan material ternyata tidak otomatis menghadirkan ketenangan jiwa. Banyak orang hidup berkecukupan, tetapi batinnya gelisah, stres, dan kehilangan arah.

Keraguan yang dibiarkan tumbuh terus-menerus akhirnya melahirkan kegelisahan yang mendalam.


Modernitas dan krisis batin

Salah satu penyakit manusia modern adalah membiarkan keraguan berkembang tanpa penanganan serius.

Akibatnya muncul berbagai gangguan psikosomatik: stres, kecemasan, sulit tidur, hingga pelampiasan berlebihan dalam konsumsi dan gaya hidup.

Seseorang mungkin memiliki kekayaan dan kekuasaan besar, tetapi karena kehilangan cahaya batin, semua itu justru dipakai untuk hal-hal yang merusak.

Karena itulah Ibn ‘Athaillah mengingatkan agar keraguan segera diatasi sejak awal.

Jika ada pertanyaan dalam hati, carilah jawaban. Diskusikan, belajar, membaca, dan berkonsultasilah kepada orang yang memiliki kedalaman ilmu dan hikmah.

Sebab fondasi hidup manusia adalah keyakinan kepada Allah. Ketika fondasi itu goyah, seluruh bangunan hidup ikut terancam runtuh.

Pesan utama hikmah ketujuh ini sangat mendalam yakni jangan biarkan keterlambatan terkabulnya doa membuat kita meragukan Allah.

Karena keraguan yang dibiarkan tumbuh perlahan akan menggerogoti iman dan memadamkan cahaya mata batin.

Doa pertama-tama adalah penegasan bahwa kita adalah hamba. Dan seorang hamba tetap mengetuk pintu Tuhannya, sekalipun jawaban itu belum datang sesuai waktu yang ia harapkan.



Bekasi, 10 Mei 2026

Jumat, 01 Mei 2026

9 Tahun Belajar dan Berkhidmah di NU Online, Kini Saatnya Saya Pamit Undur Diri

 



“Barangsiapa yang telah mencicip manisnya pertemuan maka harus siap mencecap pahitnya perpisahan.”

Saya tidak pernah benar-benar siap untuk bagian kedua dari kalimat itu.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat atau sekadar hitungan kalender, tetapi kumpulan kenangan, proses jatuh-bangun, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan perjalanan panjang menemukan jati diri. NU Online bagi saya adalah ruang hidup yang ikut membentuk siapa saya hari ini, bukan hanya tempat berkhidmah dan berkarya.

Semua ini bermula pada Januari 2017. Saat itu, saya masih seorang mahasiswa semester lima di jurusan Ilmu Komunikasi, dengan konsentrasi jurnalistik, di Universitas Islam "45" Bekasi (sekarang Univeristas Muhammadiyah Indonesia). Saya sedang berada di fase penuh tanya: ingin menjadi apa, dan bagaimana cara mencapainya?

Jawaban pertama saya temukan ketika mengikuti Kelas Menulis di NU Online.

Di sana, saya bertemu dengan Abdullah Alawi—mentor, senior, sekaligus guru yang membuka jalan pertama saya di dunia jurnalistik. Gaya mengajarnya sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Ia mengajarkan teknik menulis, sekaligus menanamkan keberanian untuk memulai.

Artikel pertama saya berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim menjadi tonggak penting. Tulisan itu diedit dan diterbitkan langsung oleh Abdullah Alawi pada 16 Januari 2017. Saat melihat nama saya tertera sebagai penulis, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, saya merasa: "mungkin saya memang bisa berjalan di jalan ini".

Dari sana, perjalanan saya dimulai. Saya menjadi kontributor daerah untuk Bekasi, meliput berbagai kegiatan PCNU Kota Bekasi. Di fase ini, saya belajar arti konsistensi. Menulis dan liputan di sela-sela kuliah sekaligus belajar memahami bahwa setiap berita adalah tanggung jawab. Tidak selalu mudah. Tapi justru di situlah saya ditempa.

Tahun 2020 menjadi babak baru. Saya dihubungi oleh Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (sekarang Redaktur Eksekutif) untuk bergabung sebagai Reporter In-house. Dari sinilah dunia saya melebar. Saya tidak lagi hanya menulis berita lokal, tetapi mulai masuk ke isu-isu nasional, bertemu tokoh-tokoh penting, dan memahami kompleksitas realitas yang lebih luas.

Saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal melaporkan peristiwa, tetapi juga membaca situasi, menggali makna, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.

Lalu datang tahun 2023—fase yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia media.

Pemimpin Redaksi, Ivan Aulia Ahsan, memberi saya kepercayaan menjadi Redaktur desk Polhukam, per 1 Oktober 2023. Sebuah amanah yang tidak ringan. Saya harus mengelola isu, menentukan arah pemberitaan, menugaskan reporter, hingga mengedit naskah dengan ketelitian tinggi.

Di sini, saya belajar bahwa di balik sebuah berita yang terbit, ada proses panjang yang tidak terlihat. Ada pertimbangan ideologi, akurasi data, kekuatan logika bahasa, dan ketajaman sudut pandang.

Saya tidak berjalan sendiri. Saya ditemani oleh tim reporter luar biasa: Haekal Attar, Fathur Rohman, Suci Amaliyah, Mufidah Adzkia, dan Rikhul Jannah. Mereka bukan hanya rekan kerja, tetapi juga teman seperjuangan. Kami berbagi tekanan, tawa, lelah, dan semangat yang sama setiap harinya.

Jika hari ini saya berdiri di titik ini, salah satu alasannya adalah mereka.

Lalu saya mencapai salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidup saya: mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pada 24-27 April 2024.

Bagi saya, UKW bukan sekadar ujian, tetapi refleksi dari seluruh proses yang telah saya jalani sejak 2017. Ketika dinyatakan lulus dan menyandang predikat “berkompeten”, saya merasa seperti menutup satu bab penting dengan penuh rasa syukur.

Bukan karena akhirnya saya “diakui”, tetapi karena saya tahu betul betapa panjang jalan yang telah saya tempuh untuk sampai ke titik itu.

Mengikuti UKW membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang tepat dan mampu melangkah lebih jauh.

Dan kini, 2026.

Saya berdiri di persimpangan yang tidak mudah: antara bertahan di zona nyaman atau melangkah ke ruang baru yang belum pasti. Setelah berpikir panjang, saya memilih yang kedua.

Saya sudah menyatakan undur diri secara lisan dan tatap muka kepada Pemred NU Online Ivan Aulia Ahsan serta Direktur Utama NU Online H Hamzah Sahal. Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan media, saya juga sudah menyatakan undur diri melalui Surat Pengunduran Diri yang saya layangkan ke PT Visi Berkah Bangsa, perusahaan yang menaungi NU Online.

Saya mengakhirkan khidmah saya di NU Online pada 30 April 2026. Lalu per 1 Mei 2026, saya sudah resmi tidak lagi menjadi bagian dari perkhidmahan sebagai kru Redaksi NU Online.

Saya meyakinkan kepada semua orang, terutama para reporter di desk Polhukam NU Online, bahwa saya tidak pergi. Saya hanya sedang melanjutkan perjalanan.

Saya masih Aru yang sama—yang ceria, yang terbuka untuk diskusi, yang bisa ditemui dan dihubungi kapan saja. Tidak ada yang berubah dari diri saya, kecuali keberanian untuk mencoba hal baru.

NU Online akan selalu menjadi rumah kedua saya. Tempat saya belajar menulis dari nol. Tempat saya ditempa menjadi wartawan. Tempat saya mengenal arti tanggung jawab, profesionalitas, dan dedikasi.

Namun, setiap rumah pada akhirnya akan melahirkan seorang perantau. Saya percaya, merantau bukan berarti menjauh tapi justru cara untuk kembali dengan versi diri yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap memberi makna.

Mungkin hari ini adalah perpisahan. Tapi saya percaya, ini bukan akhir dari cerita kita. Suatu hari nanti, ketika jalan yang kita tempuh membawa kita ke puncak masing-masing, kita akan bertemu lagi dengan versi terbaik dari diri kita.

Dan kalau saat itu tiba, kita akan tersenyum bangga dan berkata: "perpisahan ini ternyata tidak sia-sia."

Terima kasih untuk semua kawan-kawan di NU Online yang telah membantu, membimbing, dan melangkah bersama saya selama sembilan tahun, sejak 2017 hingga 2026. Maafkan segala kesalahan yang telah saya perbuat, baik secara lisan atau tulisan maupun berupa konten digital di media sosial saya.

Saya, Aru Elgete, pamit undur diri dan sampai jumpa!


Bekasi, 1 Mei 2026.

Minggu, 12 April 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (6): Mengapa Doa Kita Tak Selalu Sesuai Harapan?

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil ke-6 spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede Bekasi, pada 12 April 2026.



Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-6 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede, Bekasi, Jawa Barat, pada 12 April 2026.


*****


لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ العَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ 

"Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Allah kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa. Sebab, Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Ia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilihkan untuk dirimu sendiri. Dan pada waktu yang Ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan."


Kalau doa kita belum juga “tembus”, jangan sampai ذلك يُوجِب لك اليأس (dzālika yūjibu laka al-ya’s) — itu membuat kita putus asa. Jangan sampai kita kemudian merasa: “Kayaknya Tuhan tidak perhatian kepada saya.”


Semua orang pasti pernah mengalami ini, dalam derajat yang berbeda-beda. Kalau frustrasinya besar, keluhannya kepada Tuhan juga besar. Tapi semua orang pasti pernah mengalami.

Jujur saja, kadang kita juga protes: “Ini bagaimana sih, ya Allah? Doa terus, kok tidak dikabulkan?” Nah, kenapa doa yang tidak dikabulkan atau terlambat dikabulkan itu tidak boleh membuat kita putus asa?

Karena dalam Hikmah ke-6 ini disebutkan:

فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ


Artinya:
Allah menjamin pengabulan doa bagimu, tetapi dalam apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan apa yang kamu pilih untuk dirimu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang kamu kehendaki.

Jadi tugas manusia adalah berdoa. Bagaimana Allah mengabulkan doa kita, itu bukan urusan kita. Allah punya cara sendiri.

فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ
Sesuai dengan apa yang Allah pilihkan untukmu.

Intinya hikmah ke-6 ini yaitu manusia jangan mengatur Tuhan. Kitalah yang diatur oleh Allah, bukan sebaliknya.

Kadang kita ini ingin mengatur: “Ya Allah, saya minta mobil… mereknya ini ya Allah.”
Itu terlalu spesifik. Jangan begitu. Allah yang punya hak penuh menentukan.


Kemudian:
وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ
Waktunya terserah Allah. Bisa sekarang, nanti, tahun depan, atau bahkan di akhirat.

Yang penting: Allah menjamin doa akan dikabulkan.

Masalahnya, manusia ingin doa dikabulkan sesuai cara dan waktunya sendiri. Ini yang keliru.



Jamaah perempuan ngaji Al-Hikam


Hikmah ini mengajarkan optimisme: harapan tidak boleh putus. Walaupun tidak sesuai keinginan kita, doa tetap dikabulkan.

Kalau mindset kita benar bahwa kita diatur oleh Allah, maka kita tidak akan mudah frustrasi.

Dalam syarahnya, Ibn ‘Ajibah menjelaskan adab berdoa. Secara ekstrem bahkan dikatakan: sebenarnya manusia tidak perlu berdoa, karena semua sudah dijamin Allah. Tapi kita tetap harus berdoa. Kenapa? Karena doa itu menegaskan posisi kita sebagai hamba (عبد).

Seorang hamba itu wajar meminta kepada Tuhannya. Jadi tujuan utama doa bukan isi permintaannya, tetapi sikap kehambaan. Kalau kita tidak pernah meminta, itu malah tidak pantas.

Adab Berdoa

1. Doa untuk menegaskan kehambaan, bukan menagih janji Allah. Tidak boleh kita berdoa dengan mental seperti “debt collector”.

2. Tidak boleh putus asa jika tidak dikabulkan sesuai keinginan.


Dalam hadis disebutkan, doa itu punya tiga kemungkinan:

1. Langsung dikabulkan.
2. Ditunda dan disimpan sebagai pahala di akhirat.
3. Diganti dengan dihindarkan dari musibah yang setara.

Jadi tidak ada doa yang sia-sia.


مَنْ لَمْ يَكُنْ فِي دُعَائِهِ تَارِكًا لِاخْتِيَارِهِ رَاضِيًا بِاخْتِيَارِ الْحَقِّ...

Kalau seseorang berdoa tetapi tetap memaksakan kehendaknya, tidak ridha dengan pilihan Allah, lalu doanya dikabulkan, itu belum tentu karena Allah ridha.

Bisa jadi itu istidraj (dibiarkan agar semakin jauh). Seperti orang yang terus merengek, lalu dikasih hanya supaya diam. Jadi dikabulkannya doa belum tentu tanda cinta Allah.

Orang tasawuf itu selalu waspada bahwa doa yang dikabulkan belum tentu karena Allah ridha dan ibadah yang dilakukan belum tentu diterima. Bisa jadi orang yang jarang ibadah, justru sekalinya ibadah, ibadah dia diterima oleh Allah.

Ini penting agar tidak sombong.

Contoh:
Saat berbuka, jangan langsung merasa: “Puasa saya pasti diterima.” Tidak boleh merasa pasti. Harus tetap ada rasa khawatir.


Ilmu tasawuf itu mengajarkan: jangan terlalu yakin dengan amal sendiri dan harus ada rasa tidak pasti (khauf dan raja’) supaya tidak jatuh pada kesombongan.


Kalau kita berdoa dengan kesadaran: "Saya berdoa, tapi hasilnya saya serahkan sepenuhnya kepada Allah”...

فَهُوَ مُجَابٌ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ

Dia sebenarnya sudah dikabulkan, walaupun belum diberi.

Dan:

الأعمال بخواتيمها

Amal itu dinilai dari akhirnya, bukan awalnya.



Bekasi, 12 April 2026