Minggu, 10 Mei 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (7): Jangan Ragukan Janji Allah Meski Doa Belum Terkabul

 

Foto bersama santri laki-laki usai ngaji Al-Hikam

Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-7 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 10 Mei 2026.


*****


لاَ يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوعِ الْمَوْعُودِ وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَانُهُ لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ


“Jangan sampai keterlambatan terkabulnya doa membuatmu ragu pada janji Allah, karena akan membuat cahaya batinmu menjadi padam."

Dalam beberapa hikmah terakhir, pembahasan Al-Hikam banyak berkaitan dengan doa. Salah satu persoalan besar yang dihadapi orang-orang beriman adalah soal dikabulkannya doa.

Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian.”

Ayat ini melahirkan pertanyaan yang sejak dulu hingga sekarang selalu hadir di hati banyak orang beriman. Kita diperintahkan berdoa, lalu kita pun berdoa. Namun sering kali muncul pengalaman batin: mengapa doa terasa tidak kunjung terkabul?

Seseorang bisa saja berkata dalam hatinya:

“Saya sudah berdoa setiap hari, salat setiap hari, meminta kepada Allah terus-menerus. Tetapi mengapa belum juga terwujud?”

Lalu timbul pertanyaan yang lebih dalam lagi:

“Bukankah Allah berjanji akan mengabulkan doa? Kalau begitu, mengapa belum terkabul?”

Pertanyaan semacam ini hampir pasti pernah dialami oleh semua orang beriman, meskipun sering kali hanya dipendam dalam hati.


Bukan Utang

Pada hikmah sebelumnya, Ibn ‘Athaillah sudah mengingatkan:

 لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ

“Jangan sampai keterlambatan pemberian Allah, meskipun engkau sudah sungguh-sungguh berdoa, membuatmu berputus asa.”

Menurut penjelasan Ibn ‘Ajibah Al-Husaini, doa pertama-tama harus dipahami sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

Kita berdoa karena kita adalah hamba. Fungsi utama doa bersifat تَعَبُّدِيَّة (ta‘abbudiyah), yakni sebagai bentuk penghambaan dan penyembahan kepada Allah.

Seorang hamba meminta kepada Tuannya adalah sesuatu yang wajar. Anak meminta kepada orang tuanya adalah sesuatu yang normal. Maka manusia meminta kepada Allah juga merupakan sesuatu yang sewajarnya.

Karena itu, hakikat utama doa bukanlah “menagih” Allah agar segera memenuhi permintaan kita. Doa bukan seperti menagih proposal yang belum cair.

Tentu kita berharap doa dikabulkan. Namun mindset utama dalam berdoa seharusnya adalah:

“Ya Allah, aku ini hamba-Mu, dan Engkau adalah Tuhanku. Karena itulah aku meminta kepada-Mu.”

Ketika seseorang berdoa dengan kesadaran kehambaan seperti ini, justru doa menjadi lebih jernih dan penuh adab. Tidak ada nada memaksa atau menekan Allah.


Foto bersama santri perempuan usai Ngaji Al-Hikam


Jangan biarkan keraguan tumbuh

Hikmah ketujuh ini melanjutkan pembahasan tersebut. Ibn ‘Athaillah mengingatkan bahwa ketika janji Allah tampak belum terwujud, jangan sampai hal itu melahirkan keraguan kepada Allah.

 لاَ يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ

“Jangan sampai hal itu membuatmu ragu terhadap janji Allah.”

Pokok persoalannya adalah تَشْكِيك (tasykik), yakni keraguan.

Keraguan dalam perjalanan iman adalah sesuatu yang bisa dialami siapa saja. Bahkan orang beriman pun, jika jujur terhadap dirinya sendiri, mungkin pernah mengalami pertanyaan-pertanyaan batin:

“Mengapa Allah belum memenuhi janji-Nya?”

Apalagi di zaman modern seperti sekarang, sumber keraguan terhadap agama sangat banyak. Informasi yang menggoyahkan keyakinan datang dari berbagai arah.

Karena itu, keraguan tidak boleh dibiarkan tumbuh begitu saja. Jika dibiarkan, ia perlahan akan menggerogoti iman.

Awalnya mungkin hanya satu persen. Tetapi lama-kelamaan bisa menjadi dua persen, lima persen, sepuluh persen, hingga akhirnya menguasai hati sepenuhnya.

Mengatasi keraguan

Dalam tradisi Islam, keraguan diatasi melalui dua pendekatan sekaligus.

Pertama, melalui argumentasi rasional. Inilah wilayah ilmu kalam dan ilmu tauhid. Keraguan dijawab dengan dalil-dalil rasional.

Islam tidak mengajarkan iman tanpa dasar. Berbeda dengan sebagian pengertian Barat tentang faith yang sering dipahami sebagai “percaya tanpa bukti”, iman dalam Islam justru menuntut adanya dalil.

Seseorang tidak boleh sekadar percaya tanpa alasan. Harus ada dasar rasional mengapa ia percaya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama sering memberikan contoh sederhana, "Kalau ada bekas kaki unta di padang pasir, pasti sebelumnya ada unta yang lewat. Kalau ada kotoran sapi, pasti ada sapinya."

Begitu pula alam semesta ini. Kalau alam ada, pasti ada yang menciptakannya.

Dalil sederhana semacam ini bisa dipahami bahkan oleh orang awam.

Kedua, melalui pendekatan hati. Di sinilah wilayah tasawuf.

Setelah iman diperkuat oleh akal, ia perlu diperdalam melalui pengalaman batin. Ketika seseorang beribadah, berdoa, dan mendekat kepada Allah, lahirlah pengalaman spiritual yang membuat keyakinan menjadi lebih kokoh.

Karena itu, keraguan tidak hanya menyerang akal, tetapi juga hati. Maka pengobatannya pun harus menyentuh keduanya.

Ibn ‘Athaillah memperingatkan bahwa keraguan bisa merusak mata batin manusia.

لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ

“Jangan sampai hal itu melukai mata batinmu dan memadamkan cahaya rahasia hatimu.”

Dalam pandangan para sufi, manusia memiliki lapisan-lapisan batin.

Ada قَلْب (qalb/hati), lalu di dalam hati terdapat بَصِيرَة (bashirah), yaitu mata batin. Di pusat terdalam terdapat سَرِيرَة (sarirah), inti rahasia batin manusia.


Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil


Jika keraguan terus dibiarkan, maka cahaya dalam mata batin itu perlahan akan redup, bahkan bisa padam sama sekali.

Ketika cahaya batin padam, manusia kehilangan orientasi hidup. Secara lahiriah mungkin tetap hidup, kaya, dan makmur, tetapi secara batin mengalami kekosongan.

Di sinilih salah satu problem besar manusia modern.

Kemajuan material ternyata tidak otomatis menghadirkan ketenangan jiwa. Banyak orang hidup berkecukupan, tetapi batinnya gelisah, stres, dan kehilangan arah.

Keraguan yang dibiarkan tumbuh terus-menerus akhirnya melahirkan kegelisahan yang mendalam.


Modernitas dan krisis batin

Salah satu penyakit manusia modern adalah membiarkan keraguan berkembang tanpa penanganan serius.

Akibatnya muncul berbagai gangguan psikosomatik: stres, kecemasan, sulit tidur, hingga pelampiasan berlebihan dalam konsumsi dan gaya hidup.

Seseorang mungkin memiliki kekayaan dan kekuasaan besar, tetapi karena kehilangan cahaya batin, semua itu justru dipakai untuk hal-hal yang merusak.

Karena itulah Ibn ‘Athaillah mengingatkan agar keraguan segera diatasi sejak awal.

Jika ada pertanyaan dalam hati, carilah jawaban. Diskusikan, belajar, membaca, dan berkonsultasilah kepada orang yang memiliki kedalaman ilmu dan hikmah.

Sebab fondasi hidup manusia adalah keyakinan kepada Allah. Ketika fondasi itu goyah, seluruh bangunan hidup ikut terancam runtuh.

Pesan utama hikmah ketujuh ini sangat mendalam yakni jangan biarkan keterlambatan terkabulnya doa membuat kita meragukan Allah.

Karena keraguan yang dibiarkan tumbuh perlahan akan menggerogoti iman dan memadamkan cahaya mata batin.

Doa pertama-tama adalah penegasan bahwa kita adalah hamba. Dan seorang hamba tetap mengetuk pintu Tuhannya, sekalipun jawaban itu belum datang sesuai waktu yang ia harapkan.



Bekasi, 10 Mei 2026

Jumat, 01 Mei 2026

9 Tahun Belajar dan Berkhidmah di NU Online, Kini Saatnya Saya Pamit Undur Diri

 



“Barangsiapa yang telah mencicip manisnya pertemuan maka harus siap mencecap pahitnya perpisahan.”

Saya tidak pernah benar-benar siap untuk bagian kedua dari kalimat itu.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat atau sekadar hitungan kalender, tetapi kumpulan kenangan, proses jatuh-bangun, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan perjalanan panjang menemukan jati diri. NU Online bagi saya adalah ruang hidup yang ikut membentuk siapa saya hari ini, bukan hanya tempat berkhidmah dan berkarya.

Semua ini bermula pada Januari 2017. Saat itu, saya masih seorang mahasiswa semester lima di jurusan Ilmu Komunikasi, dengan konsentrasi jurnalistik, di Universitas Islam "45" Bekasi (sekarang Univeristas Muhammadiyah Indonesia). Saya sedang berada di fase penuh tanya: ingin menjadi apa, dan bagaimana cara mencapainya?

Jawaban pertama saya temukan ketika mengikuti Kelas Menulis di NU Online.

Di sana, saya bertemu dengan Abdullah Alawi—mentor, senior, sekaligus guru yang membuka jalan pertama saya di dunia jurnalistik. Gaya mengajarnya sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Ia mengajarkan teknik menulis, sekaligus menanamkan keberanian untuk memulai.

Artikel pertama saya berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim menjadi tonggak penting. Tulisan itu diedit dan diterbitkan langsung oleh Abdullah Alawi pada 16 Januari 2017. Saat melihat nama saya tertera sebagai penulis, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, saya merasa: "mungkin saya memang bisa berjalan di jalan ini".

Dari sana, perjalanan saya dimulai. Saya menjadi kontributor daerah untuk Bekasi, meliput berbagai kegiatan PCNU Kota Bekasi. Di fase ini, saya belajar arti konsistensi. Menulis dan liputan di sela-sela kuliah sekaligus belajar memahami bahwa setiap berita adalah tanggung jawab. Tidak selalu mudah. Tapi justru di situlah saya ditempa.

Tahun 2020 menjadi babak baru. Saya dihubungi oleh Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (sekarang Redaktur Eksekutif) untuk bergabung sebagai Reporter In-house. Dari sinilah dunia saya melebar. Saya tidak lagi hanya menulis berita lokal, tetapi mulai masuk ke isu-isu nasional, bertemu tokoh-tokoh penting, dan memahami kompleksitas realitas yang lebih luas.

Saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal melaporkan peristiwa, tetapi juga membaca situasi, menggali makna, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.

Lalu datang tahun 2023—fase yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia media.

Pemimpin Redaksi, Ivan Aulia Ahsan, memberi saya kepercayaan menjadi Redaktur desk Polhukam, per 1 Oktober 2023. Sebuah amanah yang tidak ringan. Saya harus mengelola isu, menentukan arah pemberitaan, menugaskan reporter, hingga mengedit naskah dengan ketelitian tinggi.

Di sini, saya belajar bahwa di balik sebuah berita yang terbit, ada proses panjang yang tidak terlihat. Ada pertimbangan ideologi, akurasi data, kekuatan logika bahasa, dan ketajaman sudut pandang.

Saya tidak berjalan sendiri. Saya ditemani oleh tim reporter luar biasa: Haekal Attar, Fathur Rohman, Suci Amaliyah, Mufidah Adzkia, dan Rikhul Jannah. Mereka bukan hanya rekan kerja, tetapi juga teman seperjuangan. Kami berbagi tekanan, tawa, lelah, dan semangat yang sama setiap harinya.

Jika hari ini saya berdiri di titik ini, salah satu alasannya adalah mereka.

Lalu saya mencapai salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidup saya: mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pada 24-27 April 2024.

Bagi saya, UKW bukan sekadar ujian, tetapi refleksi dari seluruh proses yang telah saya jalani sejak 2017. Ketika dinyatakan lulus dan menyandang predikat “berkompeten”, saya merasa seperti menutup satu bab penting dengan penuh rasa syukur.

Bukan karena akhirnya saya “diakui”, tetapi karena saya tahu betul betapa panjang jalan yang telah saya tempuh untuk sampai ke titik itu.

Mengikuti UKW membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang tepat dan mampu melangkah lebih jauh.

Dan kini, 2026.

Saya berdiri di persimpangan yang tidak mudah: antara bertahan di zona nyaman atau melangkah ke ruang baru yang belum pasti. Setelah berpikir panjang, saya memilih yang kedua.

Saya sudah menyatakan undur diri secara lisan dan tatap muka kepada Pemred NU Online Ivan Aulia Ahsan serta Direktur Utama NU Online H Hamzah Sahal. Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan media, saya juga sudah menyatakan undur diri melalui Surat Pengunduran Diri yang saya layangkan ke PT Visi Berkah Bangsa, perusahaan yang menaungi NU Online.

Saya mengakhirkan khidmah saya di NU Online pada 30 April 2026. Lalu per 1 Mei 2026, saya sudah resmi tidak lagi menjadi bagian dari perkhidmahan sebagai kru Redaksi NU Online.

Saya meyakinkan kepada semua orang, terutama para reporter di desk Polhukam NU Online, bahwa saya tidak pergi. Saya hanya sedang melanjutkan perjalanan.

Saya masih Aru yang sama—yang ceria, yang terbuka untuk diskusi, yang bisa ditemui dan dihubungi kapan saja. Tidak ada yang berubah dari diri saya, kecuali keberanian untuk mencoba hal baru.

NU Online akan selalu menjadi rumah kedua saya. Tempat saya belajar menulis dari nol. Tempat saya ditempa menjadi wartawan. Tempat saya mengenal arti tanggung jawab, profesionalitas, dan dedikasi.

Namun, setiap rumah pada akhirnya akan melahirkan seorang perantau. Saya percaya, merantau bukan berarti menjauh tapi justru cara untuk kembali dengan versi diri yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap memberi makna.

Mungkin hari ini adalah perpisahan. Tapi saya percaya, ini bukan akhir dari cerita kita. Suatu hari nanti, ketika jalan yang kita tempuh membawa kita ke puncak masing-masing, kita akan bertemu lagi dengan versi terbaik dari diri kita.

Dan kalau saat itu tiba, kita akan tersenyum bangga dan berkata: "perpisahan ini ternyata tidak sia-sia."

Terima kasih untuk semua kawan-kawan di NU Online yang telah membantu, membimbing, dan melangkah bersama saya selama sembilan tahun, sejak 2017 hingga 2026. Maafkan segala kesalahan yang telah saya perbuat, baik secara lisan atau tulisan maupun berupa konten digital di media sosial saya.

Saya, Aru Elgete, pamit undur diri dan sampai jumpa!


Bekasi, 1 Mei 2026.

Minggu, 12 April 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (6): Mengapa Doa Kita Tak Selalu Sesuai Harapan?

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil ke-6 spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede Bekasi, pada 12 April 2026.



Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-6 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede, Bekasi, Jawa Barat, pada 12 April 2026.


*****


لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ العَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ 

"Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Allah kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa. Sebab, Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Ia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilihkan untuk dirimu sendiri. Dan pada waktu yang Ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan."


Kalau doa kita belum juga “tembus”, jangan sampai ذلك يُوجِب لك اليأس (dzālika yūjibu laka al-ya’s) — itu membuat kita putus asa. Jangan sampai kita kemudian merasa: “Kayaknya Tuhan tidak perhatian kepada saya.”


Semua orang pasti pernah mengalami ini, dalam derajat yang berbeda-beda. Kalau frustrasinya besar, keluhannya kepada Tuhan juga besar. Tapi semua orang pasti pernah mengalami.

Jujur saja, kadang kita juga protes: “Ini bagaimana sih, ya Allah? Doa terus, kok tidak dikabulkan?” Nah, kenapa doa yang tidak dikabulkan atau terlambat dikabulkan itu tidak boleh membuat kita putus asa?

Karena dalam Hikmah ke-6 ini disebutkan:

فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ


Artinya:
Allah menjamin pengabulan doa bagimu, tetapi dalam apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan apa yang kamu pilih untuk dirimu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang kamu kehendaki.

Jadi tugas manusia adalah berdoa. Bagaimana Allah mengabulkan doa kita, itu bukan urusan kita. Allah punya cara sendiri.

فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ
Sesuai dengan apa yang Allah pilihkan untukmu.

Intinya hikmah ke-6 ini yaitu manusia jangan mengatur Tuhan. Kitalah yang diatur oleh Allah, bukan sebaliknya.

Kadang kita ini ingin mengatur: “Ya Allah, saya minta mobil… mereknya ini ya Allah.”
Itu terlalu spesifik. Jangan begitu. Allah yang punya hak penuh menentukan.


Kemudian:
وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ
Waktunya terserah Allah. Bisa sekarang, nanti, tahun depan, atau bahkan di akhirat.

Yang penting: Allah menjamin doa akan dikabulkan.

Masalahnya, manusia ingin doa dikabulkan sesuai cara dan waktunya sendiri. Ini yang keliru.



Jamaah perempuan ngaji Al-Hikam


Hikmah ini mengajarkan optimisme: harapan tidak boleh putus. Walaupun tidak sesuai keinginan kita, doa tetap dikabulkan.

Kalau mindset kita benar bahwa kita diatur oleh Allah, maka kita tidak akan mudah frustrasi.

Dalam syarahnya, Ibn ‘Ajibah menjelaskan adab berdoa. Secara ekstrem bahkan dikatakan: sebenarnya manusia tidak perlu berdoa, karena semua sudah dijamin Allah. Tapi kita tetap harus berdoa. Kenapa? Karena doa itu menegaskan posisi kita sebagai hamba (عبد).

Seorang hamba itu wajar meminta kepada Tuhannya. Jadi tujuan utama doa bukan isi permintaannya, tetapi sikap kehambaan. Kalau kita tidak pernah meminta, itu malah tidak pantas.

Adab Berdoa

1. Doa untuk menegaskan kehambaan, bukan menagih janji Allah. Tidak boleh kita berdoa dengan mental seperti “debt collector”.

2. Tidak boleh putus asa jika tidak dikabulkan sesuai keinginan.


Dalam hadis disebutkan, doa itu punya tiga kemungkinan:

1. Langsung dikabulkan.
2. Ditunda dan disimpan sebagai pahala di akhirat.
3. Diganti dengan dihindarkan dari musibah yang setara.

Jadi tidak ada doa yang sia-sia.


مَنْ لَمْ يَكُنْ فِي دُعَائِهِ تَارِكًا لِاخْتِيَارِهِ رَاضِيًا بِاخْتِيَارِ الْحَقِّ...

Kalau seseorang berdoa tetapi tetap memaksakan kehendaknya, tidak ridha dengan pilihan Allah, lalu doanya dikabulkan, itu belum tentu karena Allah ridha.

Bisa jadi itu istidraj (dibiarkan agar semakin jauh). Seperti orang yang terus merengek, lalu dikasih hanya supaya diam. Jadi dikabulkannya doa belum tentu tanda cinta Allah.

Orang tasawuf itu selalu waspada bahwa doa yang dikabulkan belum tentu karena Allah ridha dan ibadah yang dilakukan belum tentu diterima. Bisa jadi orang yang jarang ibadah, justru sekalinya ibadah, ibadah dia diterima oleh Allah.

Ini penting agar tidak sombong.

Contoh:
Saat berbuka, jangan langsung merasa: “Puasa saya pasti diterima.” Tidak boleh merasa pasti. Harus tetap ada rasa khawatir.


Ilmu tasawuf itu mengajarkan: jangan terlalu yakin dengan amal sendiri dan harus ada rasa tidak pasti (khauf dan raja’) supaya tidak jatuh pada kesombongan.


Kalau kita berdoa dengan kesadaran: "Saya berdoa, tapi hasilnya saya serahkan sepenuhnya kepada Allah”...

فَهُوَ مُجَابٌ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ

Dia sebenarnya sudah dikabulkan, walaupun belum diberi.

Dan:

الأعمال بخواتيمها

Amal itu dinilai dari akhirnya, bukan awalnya.



Bekasi, 12 April 2026

Sabtu, 28 Maret 2026

72 Tahun Bapak Saryono: Teladan Keteguhan Prinsip dan Kedisiplinan

 

Bapak Saryono saat ziarah ke makam bapaknya, Mbah Suwarno bin Mangku Dimedjo di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur (2023)

Tanggal 28 Maret 2026 adalah momen 72 tahun keselamatan hidup Bapak Saryono. Tujuh dekade lebih Bapak telah selamat menjalani hidup, melewati berbagai fase dengan keteguhan, kesabaran, dan prinsip yang tak pernah goyah. Bagi kami, anak-anaknya, angka 72 adalah simbol dari hidup yang penuh berkah dan keberhasilan.


Bapak bukanlah sosok yang banyak bicara tentang pencapaian pribadi, tetapi kami menyaksikan sendiri tentang jejak hidupnya yang menjadi teladan nyata. Kesederhanaannya menyimpan kekuatan. Ketegasannya mengandung kasih. Sikap diamnya sering kali justru menyampaikan pesan yang paling dalam.


Salah satu hal yang paling kami syukuri adalah cara Bapak membesarkan kami. Ia tak pernah memaksa anak-anaknya menggapai mimpi tertentu. Tidak ada tekanan untuk menjadi ini atau itu. Tidak ada tuntutan untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan. Namun, di balik kebebasan itu, Bapak justru mendorong anak-anaknya meraih cita-cita masing-masing dengan sepenuh hati.


Anak pertama, Wahdaniah Puji Hartami (Mbak Nia) menjadi seorang apoteker. Anak kedua, Nisfu Syawaluddin Tsani (Mas Nisfu) mengabdikan dirinya sebagai pegawai pemerintahan. Lalu saya, anak ketiga, memilih jalan sebagai penulis, sebuah cita-cita yang sudah tumbuh sejak kecil. Tidak satu pun dari pilihan itu yang lahir dari paksaan. Semua tumbuh dari dorongan halus namun kuat dari seorang ayah yang percaya bahwa setiap anak memiliki jalannya sendiri.


Bapak selalu menanamkan bahwa hidup bukan soal mengikuti jejak orang lain, tetapi tentang bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ia mengajarkan kedisiplinan waktu sejak kami kecil: bangun pagi, berangkat dan pulang kerja saat hari gelap, menghargai setiap detik, dan tidak menunda pekerjaan. Bagi Bapak, waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan.


Bapak juga mengajarkan kami untuk memegang teguh prinsip. Dalam hidup, akan selalu ada godaan untuk mengambil jalan pintas, untuk berkompromi dengan nilai-nilai. Namun Bapak selalu mengingatkan bahwa komitmen atas pilihan adalah harga diri yang harus dijaga. Sekali melangkah, harus berani bertanggung jawab sampai akhir.


Satu nasihat Bapak yang selalu terngiang hingga hari ini adalah tentang keberanian. Ia mengajarkan agar kami tidak pernah takut pada apa pun: tidak takut gagal, tidak takut mencoba, tidak takut menghadapi dunia. Satu-satunya hal yang patut ditakuti, katanya, adalah ketika kita tidak mendapat ridha dan keikhlasan dari keluarga. Sebab, tanpa itu, keberhasilan apa pun akan terasa hampa.


Bapak adalah sosok yang sangat teliti. Dalam hal apa pun, Bapak selalu memperhatikan detail, sekecil apa pun itu. Dari cara bekerja, berbicara, hingga mengambil keputusan, semuanya dilakukan dengan penuh pertimbangan. Bapak juga mengajarkan kami agar tidak lalai terhadap apa pun. Kesalahan kecil, jika dibiarkan, bisa menjadi masalah besar. Karena itu, kehati-hatian adalah bagian dari tanggung jawab.


Salah satu nilai yang paling sering ia ulang adalah filosofi Jawa yang sederhana namun mendalam: eling lan waspada. Ungkapan ini sering ia kutip dari tokoh punakawan dalam pewayangan, Semar. Eling berarti selalu ingat kepada Allah, tidak pernah lepas dari kesadaran bahwa hidup ini ada dalam pengawasan-Nya. Sementara waspada berarti berhati-hati terhadap segala kemungkinan, termasuk potensi kejahatan atau niat buruk dari orang lain.


Nilai ini bukan sekadar kata-kata bagi Bapak. Ia menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Bapak tidak mudah percaya pada sesuatu sebelum membuktikannya sendiri. Ia selalu kritis terhadap siapa pun, bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memastikan kebenaran. Bagi Bapak, berpikir kritis adalah bentuk tanggung jawab, bukan sikap negatif.


Dalam dunia yang sering kali penuh kepalsuan, sikap ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Memang, percaya itu penting. Namun memastikan kebenaran jauh lebih penting. Menghormati orang lain tidak berarti menelan mentah-mentah segala yang mereka katakan.


Keteguhan adalah kata lain yang tak bisa dilepaskan dari sosok Bapak. Dalam berbagai situasi, Bapak selalu menunjukkan konsistensi sikap. Ia tidak mudah goyah oleh tekanan, tidak mudah berubah arah karena pengaruh. Ketika ia sudah meyakini sesuatu sebagai kebenaran, ia akan berdiri tegak mempertahankannya.


Namun di balik semua ketegasan itu, ada kasih sayang yang begitu besar. Bapak mungkin tidak selalu mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi kami merasakannya dalam setiap tindakan. Dalam setiap nasihat. Dalam setiap diamnya yang penuh makna.


Kini, pada usia ke-72, kami melihat perjalanan panjang yang telah ia lalui dengan penuh rasa syukur. Hidupnya adalah bukti bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari gemerlap dunia, tetapi dari nilai-nilai yang diwariskan. Dari anak-anak yang tumbuh dengan prinsip. Dari keluarga yang tetap utuh dan saling menguatkan.


Kami tahu, waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Sebagai anak, kami hanya bisa berharap satu hal: semoga masih ada waktu untuk kami terus berbakti, meski tak akan pernah sebanding dari segala yang telah Bapak berikan.


Terima kasih, Bapak, atas kebebasan yang telah diberikan kepada kami untuk bermimpi. Terima kasih atas dorongan yang membuat kami berani melangkah. Terima kasih atas keteguhan, kedisiplinan, dan nilai-nilai hidup yang tak ternilai harganya.


Pada usia ke-72 ini, semoga Bapak selalu diberikan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Semoga langkah-langkah yang telah Bapak tempuh menjadi jalan berkah, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi siapa pun yang mengenalmu.


Semoga kami, anak-anakmu, mampu terus menjaga amanah nilai-nilai yang telah kau tanamkan. Selamat ulang tahun ke-72, Bapak Saryono. Kami mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya.



Bekasi, 28 Maret 2026

Senin, 23 Februari 2026

26 Tahun Istriku: Mari Kita Rayakan Hidup Tanpa Budaya Patriarki dan Feodal

 

Istriku ulang tahun

Tanggal 23 Februari 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup istriku. Di usia yang Ke-26, aku tidak hanya melihat angka yang bertambah, tetapi juga lapisan demi lapisan kedewasaan yang telah terbentuk dari pengalaman, tantangan, dan pilihan-pilihan hidup yang kamu ambil dengan penuh kesadaran. Kamu telah tumbuh menjadi sosok perempuan tangguh—ketangguhan yang tidak lahir dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keberanian untuk tetap berjalan meski rasa itu hadir.


Ketangguhanmu selalu mengingatkanku pada sosok ibuku. Bukan dalam arti membandingkan, melainkan melihat benang merah nilai yang sama: keteguhan hati, keikhlasan dalam menjalani peran, dan kekuatan untuk tetap berdiri di tengah badai kehidupan. Seperti beliau, kamu memiliki cara sendiri dalam menghadapi kerasnya realitas, tanpa kehilangan kelembutan sebagai manusia. Ada keseimbangan yang jarang dimiliki banyak orang—antara kuat dan hangat, antara tegas dan penuh empati.


Di usia ini, aku melihat perubahan yang semakin jelas dalam caramu memandang dunia. Kamu tidak lagi terburu-buru dalam merespons masalah. Kamu memilih untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu mencari solusi dengan akal sehat. Kedewasaan itu bukan sekadar tentang usia, melainkan tentang kemampuan untuk memilah mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang harus dilepaskan. Kamu telah sampai pada titik di mana emosi tidak lagi menjadi penguasa, melainkan mitra yang kamu kendalikan dengan bijaksana.


Hal yang paling aku kagumi adalah keberanianmu dalam menghadapi masa depan. Kamu tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan datang, seperti kita semua. Namun, kamu tidak membiarkan ketidakpastian itu menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Kamu memilih untuk tetap berjalan, tetap berusaha, dan tetap percaya bahwa apa pun yang datang, kita bisa menghadapinya bersama. Sikap ini bukan sesuatu yang sederhana; ini adalah hasil dari keberanian yang ditempa oleh pengalaman.


Kita berdua tahu bahwa perjalanan hidup, terutama dalam rumah tangga, tidak selalu mulus. Akan ada batu karang yang menghadang, ombak yang datang tanpa peringatan, dan arah yang kadang terasa membingungkan. Namun, dalam semua itu, aku percaya bahwa kita tidak sedang berlayar sendirian. Kita berada dalam bahtera yang sama, dengan tujuan yang sama. Kita harus siap melangkah bersama, bukan saling meninggalkan ketika keadaan menjadi sulit.


Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang selalu ingin aku jaga bersama kamu: semangat untuk tidak pernah lelah. Bukan berarti kita harus selalu kuat tanpa jeda, melainkan kita harus tahu kapan beristirahat tanpa kehilangan arah. Lelah adalah manusiawi, tetapi menyerah bukanlah pilihan yang ingin kita ambil. Kita boleh berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan energi yang baru.


Aku juga ingin kita terus mengingat pentingnya menjaga kedaulatan diri. Dalam hubungan apa pun, termasuk pernikahan, identitas pribadi tidak boleh hilang. Kamu tetaplah dirimu—perempuan dengan pikiran, keinginan, dan prinsip hidup yang kamu pegang. Aku tidak ingin kita saling menguasai, melainkan saling menghormati ruang dan kebebasan satu sama lain. Kedaulatan diri adalah fondasi dari hubungan yang sehat, karena dari situlah lahir rasa saling percaya yang sejati.


Ketika kita berbicara tentang keluarga, aku percaya kita memiliki visi yang sama: membangun ruang yang adil, hangat, dan manusiawi. Kita ingin merawat keluarga tanpa terjebak dalam budaya patriarki dan feodal yang membatasi peran dan potensi seseorang. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; yang ada hanyalah perbedaan peran yang dijalankan dengan kesadaran dan kesepakatan bersama. Kita belajar untuk tidak mengulang pola lama yang mungkin tidak lagi relevan dengan nilai yang kita yakini.


Dalam bahtera rumah tangga ini, kita bukan kapten dan penumpang. Kita adalah rekan kerja, mitra yang saling mendukung dan melengkapi. Ada kalanya kamu yang memegang kendali, ada kalanya aku. Tidak ada kompetisi di antara kita, yang ada hanyalah kolaborasi. Kita bekerja sama untuk menjaga arah, memperbaiki layar ketika robek, dan memastikan bahwa kita tetap bergerak maju meski perlahan.


Aku juga percaya bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun atas tuntutan sepihak. Kita tidak hanya menuntut untuk diistimewakan, tetapi juga berusaha untuk mengistimewakan satu sama lain. Ada keindahan dalam memberi tanpa selalu menghitung, dalam memahami tanpa selalu meminta dipahami terlebih dahulu. Ketika kita sama-sama berusaha untuk memberi yang terbaik, keseimbangan itu akan tercipta dengan sendirinya.


Di usia 26 ini, kamu berada di fase kehidupan yang penuh potensi. Banyak hal yang telah kamu capai, dan lebih banyak lagi yang masih menunggu untuk diwujudkan. Aku tidak meragukan kemampuanmu untuk terus berkembang, karena aku telah melihat bagaimana kamu belajar dari setiap pengalaman—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Kamu tidak pernah benar-benar berhenti bertumbuh.


Perjalanan ke depan mungkin tidak akan lebih mudah, tetapi aku yakin kamu akan menjadi lebih kuat. Bukan karena dunia menjadi lebih ramah, melainkan karena kamu semakin siap untuk menghadapinya. Dan dalam semua itu, aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Aku ada di sampingmu, bukan sebagai penentu arah hidupmu, tetapi sebagai teman berjalan yang siap mendukungmu dalam setiap langkah.



Selamat ulang tahun yang ke-26, istriku. Terima kasih telah menjadi dirimu yang sekarang—perempuan tangguh, dewasa, dan penuh keberanian. Semoga kita terus belajar, terus bertumbuh, dan terus melangkah bersama, apa pun yang menghadang di depan.



Bekasi, 23 Februari 2026